NgeShare - BlankOn Linux, Cerdaskan Kehidupan Bangsa dengan Produk Dalam Negeri

December 19, 2012
linux karya Indonesia


Linux...linux..dan linux, yah itulah sebuah jenis sistem operasi yang mirip dengan Unix. Linux dapat Anda unduh secara gratis alias Opensource. Linux memuat banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem operasi yang masih mendunia bernama Wind*ws.

Keunggulan tersebut antara lain yaitu Linux dapat diunduh secara bebas, tampilan lebih mudah untuk dimodifikasi, sulit untuk terjangkit virus, dll. Namun kebanyakan orang berpikir bahwa Linux itu relatif sulit dalam pengoperasiannya. Saya berpendapat bahwa pemikiran orang-orang tersebut adalah salah, karena Linux mudah untuk dioperasikan. Kita dapat mempelajari Linux dengan mudah atau dinamakan otodidak. Banyak situs-situs internet yang menyediakan beberapa tutorial mengenai Linux, mulai dari penginstalan Linux sampai cara modifikasinya.

Ngomong-ngomong soal Linux, di Indonesia sendiri sudah ada lho Linux asli buatan Indonesia. Linux ini bernama BlankOn Linux, mungkin bagi Anda seorang Linuxer tak asing lagi dengan Linux ini. BlankOn Linux adalah distribusi Linux yang dikembangkan oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan Tim Pengembang BlankOn. Distribusi ini dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna komputer umum di Indonesia.

BlankOn Linux sendiri kini telah memasuki versi 8.0 dalam rilisnya. Bagi Anda yang ngaku Fans Sejati Indonesia wajib nih buat nyoba BlankOn. Ini keren lho, gak kalah dengan Ubuntu atau Linux Mint atau dengan sistem operasi lain seperti Wind*ws.

Berikut adalah beberapa ScreenShot dari BlankOn Linux 8.0:






So..bagaimana pemikiran Anda? Apakah Anda tertarik dengan produk dalam negeri ini? Anda dapat mengunduhnya secara bebas dengan cara menekan tombol unduh di bawah ini:


Bila Anda ingin memajukan Linux ini, BlankOn Linux dengan senang hati membuka akses gabung bagi Anda yang ingin mengembangkan BlankOn Linux.


Oh, iya, BlankOn Linux kini telah tersedia di Distrowatch.
 
BlankOn di Distrowatch
Lihat juga:
comments powered by Disqus