30 Mei 2026

NgeShare - Menghidupkan Kembali Kandang Ayam Peninggalan Bapak


"Pak, kandang ayamnya bapak sekarang sudah ada penghuninya lagi lho," batin saya dalam hati usai melepaskan tiga ekor ayam petelur di kandang ayam peninggalan almarhum Bapak.

Hampir tiga tahun ini kandang ayam milik alm. Bapak kosong. Padahal dulunya ketika alm. Bapak masih ada, kandang ayam ini lumayan ramai dihiasi suara kokok ayam. Seingat saya dulu kandang ayam ini jadi salah satu tempat favorit alm. Bapak melepas penat selain tegalan dekat rumah.

"Bapak ke kandang dulu ya, mau ngasih makan ayam," pamit alm. Bapak yang selalu saya ingat setiap pagi dan sore hari. Kadang ia akan pulang membawa beberapa telur sambil berkata dengan tersenyum, "Ayamnya bapak habis bertelur, lumayan bisa buat lauk."

Oiya, sebelum mendirikan kandang ayam di dekat rumah mbak (ibunya Caca) ini, dulu sewaktu saya kecil, alm. Bapak juga pernah punya kandang ayam di dekat rumahnya. Namun, ketika saya duduk di bangku SD kelas 3, alm. Bapak memutuskan untuk tidak memelihara ayam lagi. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika saya sudah dewasa, alm. Bapak memutuskan untuk kembali memelihara beberapa ekor ayam.

Bermula dari sepasang ayam pemberian dari besan (mertua ibunya Caca), alm. Bapak memulai kegiatan ternak ayamnya. Kebetulan keinginan alm. Bapak didukung dengan adanya sedikit lahan kosong di samping rumah mbak. Alhasil, dibantu seorang tetangga, beliau mendirikan kandang ayam ini.

Dari sepasang ayam jenis bangkok, alm. Bapak membeli lagi 8 ekor ayam dengan jenis yang sama. "Biar ramai penghuninya," ujar alm. Bapak waktu itu.

Kalau diingat-ingat juga, dulu alm. Bapak sering mengajak Caca ke kandang ayam ini. Bukan mengajaknya masuk ke dalamnya sih, hanya mengajaknya melihat ayam-ayamnya dari celah-celah depan pintu kandang yang terbuat dari beberapa potong bambu. Saya beberapa kali menjumpai momen seperti itu dan ketika saya melihatnya, alm. Bapak terlihat begitu senang memperlihatkan ayam-ayamnya pada cucu perempuan kesayangannya. Sekarang justru saya yang sering mengajak Caca dan juga adiknya melihat ayam dari depan kandang.

Caca dan adiknya yang say ajak melihat ayam.

Sepeninggal alm. Bapak, membuat saya memilih untuk mengosongkan kandang ayamnya. Sebenarmya waktu itu, saya masih ingin meneruskan peninggalan alm. Bapak yang satu ini, tapi di sisi lain saya harus menjaga Caca. Khawatir tak sempat mengurus ayam-ayam peliharaan alm. Bapak, saya memutuskan untuk memberikan ayam-ayam tersebut ke salah satu tetangga. "Kalau diberikan ke Pak xxx, ayam-ayam bapak barangkli bisa lebih terawat," ucap saya pada mbak (ibunya Caca) ketika memutuskan hal tersebut.

Selang hampir tiga tahun kandang ayam alm. Bapak kosong, sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk mengisi kembali kandang ayamnya dengan tiga ekor ayam. Memang tak begitu banyak, tapi lumayan sebagai pengisi kandang sekaligus hiburan, terutama hiburan untuk Caca dan adiknya. Ah, iya, setiap kali saya akan memberi makan ayam-ayam peliharaan saya, Caca akan meminta izin pada ibunya seperti ini, "Mamah, aku ikut om kasih makan ayam, ya."

Bagian dalam kandang ayam alm. Bapak.

Andai alm. Bapak masih ada, barangkali Caca akan sering mengikutinya memberi makan ayam. Selain itu, pasti alm. Bapak juga akan tertawa ketika melihat Caca mengejar ayam-ayamnya atau justru malah sebaliknya, hehe...

Btw, sebelum memutuskan untuk kembali mengisi kandang ayam alm. Bapak, tentunya saya memulainya dengan membersihkannya lebih dulu. Merapikan dan membetulkan beberapa bagian kandang yang terlihat rusak. Lalu menaburkan beberapa karung sekam basah dan kapur deloit. Tujuan saya beri sekam basah sendiri di kandang sebagai media ceker-ceker ayam. Sedangkan penaburan kapur deloit tujuannya agar kandang ayamnya tidak menimbulkan bau yang menyengat.

Setelah penaburan sekam basah & kapur deloit.

Sekitar 3 hari saya mempersiapkan kandang ayam alm. Bapak sebelum mengisinya kembali. Setelah saya rasa kandangnya sudah siap, saya menghubungi seorang kawan yang menjual ayam. Sebenarnya kawan saya ini menjual dua jenis ayam, yaitu ayam KUB dan ayam petelur. Saya sendiri memilih ayam petelur, selain karena harganya yang lebih murah juga karena saya memelihara ayam hanya untuk diambil telurnya bukan dagingnya. Toh, ini juga bukan untuk bisnis, sekadar untuk hiburan saja. Jadi, saya rasa ayam petelur dengan jumlah yang tidak banyak ini sudah cukup untuk memulai menghidupkan kembali kandang ayam peninggalan alm. Bapak.


Oiya, setelah melepas 3 ekor ayam ke dalam kandang ayam alm. Bapak, saya merasa tak akan terjadi hal yang buruk. Tapi, dua hari setelahnya, ketika pagi-pagi saya akan memberi makan ayam, dari 3 ekor ayam yang saya pelihara, hanya tersisa dua. Melihat ketidaklengkapan itu, tentunya saya merasa gelisah. "Kalau dimakan tikus atau ular, bukannya harusnya ada suara berisik tadi malam? Apa ayamya lepas, ya? Tapi lepas kemana?" tanya saya dalam hati waktu itu.

Dengan cepat, saya mencoba untuk mengecek sekeliling kandang. Baik di dalam maupun di luarnya. Selang setengah jam, saya menjumpai 1 ekor ayam saya yang ternyata lepas ke lahan kosong di samping rumah mbak. Menjumpainya sedang nongki santai di atas dahan pohon mangga. Saya lantas mencoba untuk menangkapnya. Tapi, ah sialnya ayam itu lebih gesit dari saya. Apalagi ditambah medan yang cukup sulit dan luas lahan yang lumayan luas. Hampir satu jam saya mengejarnya, dan berujung pada bendera putih yang saya kibarkan alias saya menyerah karena lelah dan harus buru-buru berangkat kerja.

"Yah, kalau masih rezeki, nanti balik lagi. Kalau belum, ya udah diikhlasin aja," batin saya dalam hati sambil ngos-ngosan. Dan benar saja ternyata ayam itu masih rezeki saya. Sore hari sepulang kerja, ketika saya akan memberi makan ayam, saya menjumpai ayam yang lepas itu sudah ada di dalam kandang.

Celah di kandang yang sudah tertutup.

Usai kejadian lepasnya ayam saya itu, saya kemudian menutup beberapa celah di atas kandang menggunakan jaring pagar plastik. Usut punya usut, ternyata ayam saya lepas karena celah itu yang dengan mudahnya bisa dilalui ayam-ayam peliharaan saya. Nah, sekarang sepertinya ayam saya tak akan lepas lagi. Iya, jangan lepas lagi ya yam, cukup harapanku saja yang lepas, kalian jangan ya. Betah-betah di sini dan semoga nyaman. Saya tunggu telur-telur kalian, ya, hehe...

19 Januari 2026

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

Januari sudah berjalan 19 hari, tapi saya belum sempat mengucapkan selamat tahun baru. Ya, meskipun sudah terlewat, tak ada salahnya kan untuk sekadar mengucap, "Selamat tahun baru, ya, hehe..."

Ngomong-ngomong soal tahun baru, pasti identik dengan perayaan malam pergantian tahun. Kembang api, terompet, bakar-bakar daging atau jagung jadi pelengkap momen perayaan tersebut bersama orang-orang terdekat.

Nah, kalau boleh bertanya dan kalau postingan ini ada yang baca, kawan-kawan pembaca apakah waktu malam pergantian tahun kemarin juga merayakannya? Jika iya, selamat, ya. Kamu masih diberi kesempatan untuk bisa merayakannya. Semoga tahun depan masih bisa merasakan hal serupa, ya.

Tapi, di tengah riuhnya momen perayaan tahun baru kemarin, saya percaya bahwa pasti ada yang melaluinya dengan tidur lebih awal. Merasakannya seperti malam atau hari-hari biasa. Pasti ada, kan? Ya, ada kok, salah satunya saya, wkwkwk...

Seperti malam pergantian tahun yang lalu-lalu, saya tak pernah merayakannya. Tidur lebih awal jadi pilihan yang selalu saya pilih. Selain memang karena di keluarga saya tak pernah merayakannya, saya juga merasa kalau lebih baik melalui malam pergantian tahun dengan beristirahat bobok cantik, hehe...

Tapi di malam pergantian tahun kemarin dengan malam-malam pergantian tahun yang telah lalu, ada perbedaan yang saya rasakan. Kalau di tahun-tahun lalu saya berusaha untuk tidur lebih awal dan kemudian ngelilir atau terbangun dini hari sewaktu mendengar suara kembang api, lain halnya dengan malam pergantian tahun kemarin. Saya justru merasa mengantuk sekali dan selama tidur, saya sama sekali tidak terbangun dini hari seperti biasanya. Rasanya pada malam pergantian tahun kemarin, tidur saya nyenyak sekali.

Walaupun begitu, ada kegiatan serupa yang selalu saya lakukan di esok harinya atau di hari pertama tahun baru. Kegiatan tersebut ialah bersepeda. Bedanya kalau awal tahun baru yang telah lalu-lalu saya bersepeda untuk melihat kondisi jalanan yang selalu dihiasi sampah, awal tahun kemarin saya bersepeda untuk menunaikan rencana tahun kemarin yang belum sempat terlaksana.

Yups, tahun kemarin alias 2025, saya pernah berencana untuk bersepeda ke Waduk Pondok. Kalau di antara kawan pembaca ada yang orang Ngawi, pasti familiar sekali dengan waduk ini. Waduk atau bendungan legend di Kabupaten Ngawi ini menjadi salah satu destinasi bersepeda yang sudah lama saya cita-citakan. Selain karena jaraknya dari rumah saya yang cukup menantang, juga karena saya ingin mencoba menikmati suasananya di sana dengan bersepeda. Sebuah hal yang belum pernah sama sekali saya lakukan sebelumnya. Untungnya rencana lama itu bisa saya tunaikan awal tahun kemarin. Ditemani seorang kawan, saya mulai kegiatan bersepeda di hari pertama tahun 2026 sekitar pukul lima pagi menuju Waduk Pondok.

Bersepeda waktu itu awalnya berjalan dengan baik dan lancar-lancar saja. Tapi, ya namanya musibah tak ada yang tau datangnya kapan. Jadi, di tengah perjalanan, tiba-tiba pedal sepeda saya terasa kendo dan hampir lepas. Saya mulai menyadari bahwa ada yang tak beres dengan sepeda saya. Dan benar saja, ketika berhenti dan mengecek sepeda, ternyata tutup crank sepeda saya lepas.

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

"Aku berhenti dulu bro. Tutup crank sepedaku lepas," tulis saya pada pesan WA yang kemudian saya kirim ke kawan yang menemani saya bersepeda tadi. Ya, saya terpaksa mengirim kawan saya pesan WA karena kawan saya sudah cukup jauh jaraknya di depan saya. Tak lama berselang, kawan saya tadi langsung menghampiri saya yang sedang berusaha membetulkan posisi pedal sepeda.

"Tunggu di sini dulu ya bro. Aku mau nyari tutup  cranknya yang jatuh dulu. Kali aja jatuhnya masih deket sini," ujar saya pada kawan saya yang kemudian menjaga sepeda saya di pinggir jalan. Saya mencoba menelusuri jalanan yang saya lalui sebelum tutup  crank sepeda saya hilang. "Kalau masih rezeki, pasti ketemu lagi. Kalau nggak ketemu, ya bukan rejekinya," batin saya dalam hati sewaktu menelusuri jalan dengan berjalan kaki.

Sekitar 20 menit saya berjalan kaki mencari tutup crank saya yang hilang di jalanan yang sebelumnya saya lalui dengan bersepeda, saya memutuskan untuk menyerah. "Yah, bukan rejekinya. Padahal sebentar lagi sampai lokasi," sesal saya dalam hati. Namun, sewaktu saya berjalan menghampiri kawan saya yang sedang menunggu dan menjaga sepeda saya, saya melihat ada sebuah benda yang tidak asing jatuh di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari lokasi sepeda dan kawan saya menunggu. Saya hampiri dan ambil benda itu yang ternyata tutup crank sepeda saya yang lepas. Sayangnya momen pas musibah ini terjadi tidak saya abadikan. Ya, gimana mau mengabadikannya, lha wong keadaannya lagi agak panik og, hehe....

Tutup  crank sudah ketemu, eh tapi masalah tidak berhenti di situ saja. Masalah lain muncul ketika saya akan memasang tutup cranknya. Tututp cranknya memang bisa terpasang lagi, tapi belum begitu kencang. Perlu dikencangkan menggunakan obeng, terutama obeng L. Sayangnya waktu itu saya tidak membawa obeng. "Ah, harusnya kalau sepedaan jarak jauh gini, saya harusnya bawa obeng buat jaga-jaga kalau ada kejadian semacam ini," sesal saya dalam hati.

"Mau lanjut atau balik pulang?" tanya kawan saya.

"Lanjut aja bro, nanggung udah sampai sini. Bentar lagi juga kan sampai lokasi," jawab saya meyakinkannya.

"Oke bro, kali aja nanti di jalan ketemu bengkel atau komunitas sepeda yang bawa obeng," sahut kawan saya.

Pada akhirnya saya dan juga kawan saya melanjutkan perjalanan. Tapi kami harus mengurangi kecepatan, jaga-jaga supaya tutup crank saya tidak lepas lagi. Sekitar lima belas menit sebelum tiba di lokasi, kami berdua menjumpai ada sekelompok komunitas sepeda bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang berhenti di pinggir jalan. Kami lihat beberapa anggota komunitas itu sedang memperbaiki salah satu sepeda. Dan benar saja, salah satu anggotanya sedang membawa obeng.

"Boleh pinjam obengnya, Pak? Mau saya pakai buat mengencangi tutup crank saya yang kendo," izin saya kepada seorang bapak-bapak anggota komunitas sepeda.

"Ada mas, tapi sepertinya obengnya kurang besar. Tak cobane dulu ya," jawab bapak-bapak tersebut sambil langsung mencoba mengencangi tutup crank sepeda saya.

"Alhamdulillah, terima kasih, Pak," sahut saya setelah bapak-bapak tersebut selesai mengencangi cranknya.

Usai tutup crank saya selesai dikencangi dan saya mengobrol sebentar dengan komunitas sepeda bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut, saya dan juga kawan saya melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul tujuh lebih 20 menit, kami berdua tiba di Waduk Pondok. Di sana, kami tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menitan sebelum akhirnya memulai perjalanan pulang.

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

Sembari bersepeda pulang, kami berdua yang sedari rumah belum makan apa-apa alias belum sarapan, menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah warung di pinggir jalan raya. Sebuah warung nasi pecel yang penjualnya ibu-ibu berusia agak sepuh. Seporsi nasi pecel dengan gorengan tempe ditambah telur dadar dan segelas es teh jadi pilihan menu sarapan saya waktu itu. Sementara kawan saya hanya memilih nasi pecel saja tanpa minuman. Seberes sarapan dan selesai berbincang-bincang dengan ibu-ibu pemilik warung, saya dan kawan saya melanjutkan perjalanan pulang.

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

Di perjalanan pulang, ada rasa lelah tapi juga disertai perasaan sumringah. Tentunya hal itu dikarenakan salah satu rencana saya di tahun kemarin bisa saya realisasikan. Ya, meskipun sebenarnya masih ada banyak rencana tahun kemarin yang belum bisa diwujudkan, tapi setidaknya salah satunya sudah telaksana. Ya, satu persatu pasti nantinya bisa terwujud. Kalaupun belum bisa, ya sabar dulu. Menunggu waktu yang tepat atau mencoba rencana lain yang lebih mudah diwujudkan.

Ah, iya, btw kegiatan bersepeda ini sempat saya abadikan secara singkat pada video reels Instagram. Memang tidak begitu apik saya memvideokannya. Tapi saya rasa ini sudah cukup sebagai kenang-kenangan di kemudian hari. Dan barangkali ada di antara kawan-kawan yang penasaran dengan kegiatan bersepeda saya secara visual menuju ke Waduk Pondok. Bisa ditonton video pendeknya di bawah ini, ya, hehe...


13 Desember 2025

NgeShare - Mengganti Knalpot Shogi

Setelah sebelumnya saya mengelaskan knalpot motor Shogun alm. Bapak yang saya namain Shogi (sebelumnya pernah saya ceritakan di postingan dengan judul "NgeShare - Merawat Shogi"), tepat pada hari ini akhirnya saya memutuskan untuk mengganti knalpotnya dengan yang baru. Sebuah keputusan yang saya buat setelah melihat kondisi knalpot Shogi yang kembali berlubang dan justru dihiasi karat. Saya kroscek pada lubang yang muncul di bagian bawah knalpot itu ternyata ada airnya. Entah air itu masuk secara tak sengaja ketika saya mencuci Shogi atau karena lain hal yang belum saya ketahui.

NgeShare - Menggangi Knalpot Shogi

Khawatir jika hal serupa akan terulang kembali, saya mencoba untuk mencari pengganti knalpot lama Shogi. Mengingat juga kondisi knalpot sebelumnya yang saya lihat cukup repot bila harus diperbaiki lagi. Kalaupun diperbaiki, saya rasa akan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Saya lantas mencoba mencarinya secara daring pada beberapa aplikasi ecommerce. Dan dari pencarian tersebut, ketemulah salah satu produk knalpot yang dijual di ecommerce orange.

Awalnya saya sempat ragu ketika akan mencekout produk knalpot pilihan saya itu. Ya, selain karena harganya yang lumayan mahal, juga karena saya ragu apakah ini benar-benar knalpot originalnya. Bermodal duit dan juga kenekatan, saya akhirnya mencekoutnya setelah beberapa menit mengajukan sesi tanya jawab pada penjualnya, hehe...

Dua hari setelah cekout, akhirnya knalpot pesanan saya tiba di rumah. “Paket di sini ya, Pak,” tulis seorang kurir melalui pesan WA yang dikirimkannya pada saya. Sore harinya setelah pulang kerja, tentulah hal pertama yang saya lakukan ialah mengamankan paket pesanan saya tersebut ke dalam rumah. Baru besoknya, saya buka paket tersebut untuk mengecek kondisi produknya.

NgeShare - Menggangi Knalpot Shogi

Kalau dilihat sekilas sih, produk knalpot yang saya beli ini seperti originalnya, yang saya harap juga begitu, sih (hehe...). Tapi sepertinya saya baru akan tau keoriginalannya setelah memasangnya pada si Shogi. Btw saya baru sempat memasang knalpot tersebut empat hari setelah pesanan diterima.



Untungnya pemasangannya tidak terlalu susah. Tinggal copot beberapa bautnya, lalu memasangnya kembali. "Sip..., pas," batin saya puas setelah memasang knalpot baru di Shogi. Langkah terakhir, tinggal menyalakan Shogi untuk mendengar irama merdu knalpotnya.

NgeShare - Menggangi Knalpot Shogi

NgeShare - Menggangi Knalpot Shogi

Oiya, sampai lupa, sebelum memasang knalpotnya, saya lebih dulu memasang paking pada lubang sambungan antara blok mesin Shogi dengan knalpot. Tujuan pemasangan paking ini kalau saya baca-baca di media online ialah agar tidak ada kebocoran suara knalpot dan juga agar pemasangan knalpotnya bisa lebih rapat pada blok mesin.

NgeShare - Menggangi Knalpot Shogi

Usai beberapa kali menyela alias mengengkol kick starter si Shogi, akhirnya terdengar kemerduan knalpot baru. "Alhamdulillah, sudah bagus lagi motormu, Pak," ujar saya dalam hati sambil mengingat alm. Bapak.

NgeShare - Menggangi Knalpot Shogi

7 Desember 2025

NgeShare - Menunaikan Salah Satu Rencana

Pagi tadi, usai mampir ke makam bapak dan juga ibu, saya memulai untuk menunaikan salah satu rencana lama saya. Sebuah rencana lama yang sebenarnya dulu pernah saya utarakan pada bapak. “Pak, kapan-kapan kita coba sepedaan lewat jalan raya Pitu yang tembusnya ke Ngancar, ya,” ujar saya pada bapak waktu itu. Mendengar ajakan saya itu, bapak pun menjawab, “Iya nanti kalau ada waktu luang, kita coba sepedaan lewat sana, sambil lihat jembatan barunya.”

Sayangnya, rencana sepedaan dengan bapak melalui jalan itu belum bisa terlaksana. Barulah 2 tahun setelah kepergian bapak, saya bisa menunaikan rencana sepedaan melalui jalan itu. Jalan yang sedari kecil belum pernah saya lalui dan juga jalan yang selalu membuat saya penasaran.

Ah, iya, btw untuk jarak pulang pergi melalui rute jalan itu sebenarnya tidak begitu jauh. Kalau dihitung-hitung jaraknya pulang pergi dari rumah hanya sekitar 20an kilometer. Tapi di rute itu ada tantangan yang menurut saya cukup berat, yaitu banyak tanjakkannya. Ya lumayanlah bisa membuat badan gobyos dan kaki lempoh, hehe…

Tapi hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk bisa melaluinya. Ya, meskipun pagi itu udara masih terasa dingin, ditambah lagi jalanan ditutupi kabut yang cukup tebal akibat hujan semalam. Oiya, sewaktu sepedaan melalui rute jalan rute, saya beberapa kali berhenti. Sekadar mengabadikan beberapa momen dan menikmati suasana di jalan itu. Beberapa kali juga di rute jalan itu, saya berpapasan dengan beberapa kelompok orang yang sedang bersepeda. Yang ketika melihat mereka, membuat saya kembali menyadari bahwa rute di jalan itu memang seru untuk dilalui.

Sekitar hampir dua jam saya bersepeda melalui rute jalan itu. Dari pagi yang awalnya tertutup rapat oleh kabut hingga terang diselimuti cahaya mentari. Rasa lelah mulai terasa, tapi di sisi lain rasa lega yang juga tiba ketika saya sampai di tembusan jalan Ngancar ke arah jalan Ngawi kota. Saya kemudian mengakhiri kegiatan bersepeda melalui rute jalan itu sekaligus menyelesaikan rencana lama dengan mampir ke sebuah warung tepo kecap yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah.

Selesai memesan sebungkus tepo kecap sebagai sarapan, saya lanjut pulang ke rumah. Sembari menuju ke rumah, ada perasaan lega dan juga puas. Pada akhirnya saya bisa melalui jalan itu dan pada akhirnya juga saya bisa menunaikan salah satu rencana lama yang sempat tertunda.

30 November 2025

NgeShare - Pertama Kali Membuat Pengaduan ke PLN

NgeShare - Pertama Kali Membuat Pengaduan ke PLN

Sekitar satu bulan yang lalu, saya baru saja membuat pengaduan ke PLN. Pengaduan pertama kali ke PLN yang saya lakukan perihal tegangan listrik di rumah almarhum Bapak yang sering tidak stabil. Ya, tidak stabil, ditandai dengan kondisi lampu rumah yang tiba-tiba redup sepersekian detik, lalu terang kembali.

Kondisi semacam ini sebenarnya sudah lama terjadi, bahkan ketika almarhumah ibu masih ada. Namun, hal itu baru sering terjadi dan bahkan membuat saya tidak bisa menyalakan kulkas semenjak rumah alm. Bapak tidak saya tempati selama hampir 2 tahun.

Barulah ketika saya memutuskan untuk menetap di rumah alm. Bapak dan berniat untuk menggunakan beberapa elektronik yang membutuhkan daya listrik stabil, seperti kulkas dan setrika, saya mulai memikirkan solusi agar daya listrik di rumah alm. Bapak bisa kembali normal.

Usai bercerita perihal kulkas yang tidak menyala pada Mas atau kakak laki-laki saya, beliau memberi saran agar saya menghubungi petugas PLN. “Mungkin ada kabel listrik yang bermasalah”, ujarnya.

Selesai mendengar saran dari Mas, saya jadi teringat kalau beberapa bulan lalu kakak perempuan saya pernah membuat pengaduan ke PLN. Katanya untuk pengaduannya waktu itu dialihkan ke aplikasi PLN Mobile yang kemudian membuat saya kepikiran untuk mencobanya juga.

Untungnya, untuk mengajukan aduan pada aplikasi itu tidak terlalu ribet. Hanya cukup memilih fitur pengaduan, lalu menginput nomor ID pelanggan. Dan setelahnya memasukkan keluhan/ aduan listrik yang sedang dialami. Oiya, saat akan membuat aduan, pada fitur pengaduan ini saya juga diharuskan menginput alamat dan menentukan titik koordinat lokasi rumah agar memudahkan petugas mendatangi rumah.

NgeShare - Pertama Kali Membuat Pengaduan ke PLN

Saya ingat waktu itu saya mengajukan pengaduan sekitar jam setengah 8 malam. Sekitar setengah jam saya mendapat pesan WA dari PLN, dan beberapa menit kemudian dua orang petugas PLN datang. “Wah, cepat sekali ternyata responnya, saya kira mau ditindaklanjuti besok pagi,” ujar saya pada dua orang petugas PLN yang datang ke rumah alm. Bapak.

NgeShare - Pertama Kali Membuat Pengaduan ke PLN

Setibanya di rumah alm. Bapak, salah seorang petugas terlebih dahulu memeriksa sambungan jalur listrik yang berada di atas rumah. Malam-malam, beliau memanjat ke atap rumah untuk memeriksa kondisi sambungannya. Barangkali masalahnya ada di sambungan atasnya. Sayangnya pada momen ini, saya lupa tidak mengabadikannya. Dan sayangnya juga masalah listrik di rumah alm. Bapak yang tidak stabil bukan dikarenakan sambungan di atap rumah.

Salah seorang petugas kemudian memeriksa meteran listrik. Ya, meteran listrik, yang sebelumnya juga turut saya laporkan pada aduan saya. “Meteran listriknya akhir-akhir ini sering berbunyi nyaring, Pak. Apa mungkin masalahnya ada di meterannya yang sudah lama, ya?” tanya saya pada petugas yang akan memeriksa meteran listrik tersebut.

Ketika petugas membuka meterannya, ternyata ada salah satu sambungan di kabelnya yang sudah membatu. Membatunya seperti tertutup lapisan pasir putih. Entah karena saking lama meterannya. Tapi setelah kabel di meterannya diperbaiki, kendala sebelumnya masih belum teratasi.

NgeShare - Pertama Kali Membuat Pengaduan ke PLN

Pada akhirnya kedua petugas PLN tersebut memutuskan untuk memeriksa sambungan listrik yang menghubungkan rumah dengan tiang listrik. Dikarenakan tiang listriknya terlalu tinggi dan di rumah alm. Bapak tidak ada tangga panjang, membuat kedua petugas tersebut memutuskan untuk kembali ke kantor terlebih dahulu dengan tujuan mengambil kendaraan PLN yang dilengkapi dengan tangga panjang.

Pukul 21:00 WIB atau sekitar 15 menit saya menunggu, akhirnya petugas PLN kembali dengan membawa kendaraan yang dilengkapi tangga panjang. Petugas dengan kendaraannya menuju tiang listrik yang ada sambungan listrik dari rumah alm. Bapak. Untungnya jarak tiang listrik dengan rumah alm. Bapak tidak begitu jauh. Hanya sekitar 300 meter saja.

NgeShare - Pertama Kali Membuat Pengaduan ke PLN

Seingat saya, hanya sekitar 20 menitan petugas memeriksa dan membetulkan sambungan kabel yang ada di tiang listrik. Sebelum akhirnya menyarankan kepada saya untuk kembali mengecek kondisi listrik di rumah. Alhamdulillah, setelah mengecek beberapa kali, kondisi listrik di rumah alm. Bapak sudah kembali normal. Bahkan saat kulkas dan mesin cuci dinyalakan bersamaan, nyala lampu masih stabil.

Ternyata selama ini, masalah listrik di rumah alm. Bapak yang tidak stabil disebabkan oleh sambungan kabel di tiang listrik yang mengalami masalah. Adapun masalahnya dikarenakan sambungan yang sedikit longgar. Yah, ternyata selama ini karena itu. Saya sempat khawatir kalau-kalau masalahnya pada sambungan kabel listrik yang ada di rumah. Untungnya kekhawatiran saya itu meleset, hehe…

Oiya, selesai memastikan kalau kondisi listrik di rumah alm. Bapak sudah normal dan dirasa aduan saya sudah teratasi, kedua petugas PLN tersebut kemudian pamit untuk menjalankan misi berikutnya. Yak, misi untuk menyelesaikan aduan pelanggan lain. Saya kira tugas keduanya waktu itu sudah selesai. Tapi ternyata pada pukul setengah 10 malam itu, mereka berdua masih harus bertugas. “Tetap semangat meraih rezeki untuk anak istri, ya, Pak,” batin saya dalam hati sewaktu melihat keduanya beranjak dari rumah alm. Bapak.