Tak terasa, bulan ramadhan telah kembali tiba, padahal rasanya baru kemarin saja melaluinya. Dan alhamdulillah, akhirnya tahun ini kita masih dapat dipertemukan kembali dengannya dalam keadaan penuh kebaikan. Meskipun mungkin ada beberapa perbedaan antara ramadhan di tahun ini dengan ramadhan di tahun sebelumnya, seperti misalnya bertemu bulan ramadhan di perantauan, merasakan ramadhan dengan orang yang baru dipertemukan, atau mungkin tak lagi menjalankan ibadah ramadhan dengan orang yang dulu selalu mengingatkan, apapun perbedaan yang dirasakan, semoga itu tak mengurangi antusias dan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah di ramadhan tahun ini (amin...).

Walaupun ramadhan tahun ini terasa agak berbeda dengan ramadhan tahun lalu, masih ada beberapa hal di bulan ramadhan tahun ini yang mungkin dapat selalu dirindu seperti yang dulu, seperti misalnya merasakan sahur, menunaikan shalat tarawih, bertadarus, dan tentunya menunggu waktu berbuka puasa tiba. Di antara beberapa hal itu, rasa-rasanya, waktu berbukalah yang menjadi juaranya. Selain sebagai waktu untuk dapat membatalkan puasa dengan menyantap hidangan yang mengobati rasa lapar dan dahaga, juga sebagai waktu untuk dapat berkumpul dengan orang lain, seperti keluarga ataupun teman.

Ah, iya, ngomong-ngomong soal berbuka puasa dan berkumpul dengan orang lain, kamu pastinya sudah dapat menduga. Ya, menduga, bahwa akan segera tiba sebuah hal yang selalu cukup ramai dibicarakan ketika bulan puasa tiba, siapa lagi kalau bukan ajakan untuk buka bersama alias “bukber”, baik dari teman lama, teman kerja, atau sanak saudara. Tapi menurut saya, berdasarkan pengalaman (hehehe...), ajakan bukber dari teman lama lah yang paling sering berdatangan, bahkan ajakan tersebut sudah mulai bermunculan di grup WA menjelang kedatangan bulan ramadhan. Entah mengapa, itu telah menjadi hal yang biasa terjadi dan seperti telah menjadi tradisi yang katanya untuk sekalian reuni.

Ajakan bukber, mungkin bagi sebagian orang akan merasa senang dan menyambutnya dengan suka cita, karena pada saat itu ada kesempatan untuk bertemu dan melepas rindu dengan teman lama yang lama tak berjumpa. Tapi bagi sebagiannya lagi mungkin justru merasa risih, sebab ajakan bukber baginya hanya akan jadi rencana yang ujung-ujungnya tak terlaksana (wacana), kalaupun tetap terlaksana, hanya jadi ajang gaya (pamer) dan eksistensi diri di sosial media. Yah, dalam hal ini, setiap orang sah-sah saja memiliki pandangan yang berbeda, sebab yang dialami setiap insan pun tak sama.

Namun, menurut saya, bila ada ajakan berbuka puasa, sebelum memutuskan untuk menyanggupinya, alangkah baiknya memikirkan dengan sebaik-baiknya. Memikirkan apakah kamu menyanggupi karena benar-benar ingin mengikuti, atau meyanggupi hanya karena sekadar tak enak hati menolak ajakan teman yang menghampiri. Bila kehendak hati benar-benar ingin mengikuti, maka ikuti. Bila hanya karena merasa tak enak hati, alangkah baiknya meminta izin untuk tidak menghadiri, itu tetap baik agar dirimu tak merasa terbebani dan merasa tak nyaman ingin cepat-cepat pulang. Intinya, tergantung bagaimana kata hati dan kondisi yang sedang kamu dihadapi, terutama kondisi finansial saat ini. Kalau saya, tak begitu mempermasalahkan, asalkan tak membuat diri terbebani dan lupa pada kewajiban lain yang harus segera dijalani, seperti shalat Magrib dan shalat Isya’ misalnya ini.

Dan mengenai berbuka puasa, sebenarnya berbuka puasa itu bukan tentang berbuka dengan apa, bukan tentang berbuka dengan siapa, dan bukan pula tentang berbuka di mana. Berbuka puasa, sebenarnya lebih tentang bagaimana kita menjalani, bagaimana kita mengawali maupun mengakhiri, dan bagaimana kita menerima serta mensyukuri atas nikmat yang telah dimiliki.

NgeShare - Bukber

Load comments

No comments