Kemarin siang, seberes mengunggah story di Instagram, saya melihat ada sebuah pesan balasan yang dikirimkan oleh seorang kawan. Seorang kawan, yang dulunya merupakan kawan di kostan sewaktu saya masih jadi anak kuliahan. Sewajarnya seorang kawan, ia menanggapi story saya dengan sedikit candaan, meski sebenarnya waktu itu isi dari unggahan saya mengenai hal yang cukup serius, yaitu motivasi kehidupan. Tapi saya tak mempermasalahkan, sebab saya tahu maksud dari candaannya yang ujung-ujungnya justru membuat kami bernostalgia dan bercengkerama cukup lama di dunia maya.

Sembari mencari topik pembicaraan lain melalui pesan di instagram, dan berhubung sebentar lagi lebaran datang, saya bertanya kepada kawan saya perihal mudik lebarannya. Dan selepas saya melontarkan pertanyaan tentang kapan akan ia tunaikan, kemudian mendapati jawaban darinya, saya justru jadi merasa menyesal telah menayakan hal itu. Ya, menyesal, lebih tepatnya tak enak hati, sebab ia mengatakan bahwa lebaran tahun ini, ia tak mudik lagi. Ya, tak mudik lagi. Seingat saya, lebaran tahun lalu ia juga tak pulang ke kampung halaman, melainkan menetap di perantauan.

Dengan ketidakpulangannya di lebaran tahun ini, maka akan menjadi lebaran keduanya di perantauan dan menjadi genap dua tahun baginya tidak pulang. Katanya, harga tiket yang mahal dan keinginannya untuk menyelesaikan kewajiban (studi S2) di perantauan sebelum pulang, merupakan alasannya memutuskan untuk sementara menahan rindu bertemu dengan sanak keluarga di tanah kelahiran. Bila rindu terlanjur menggebu dengan keluarga di rumah, untuk sementara waktu melalui video call menjadi pelipur laranya yang ingin bertemu, tuturnya.

Dari ketidakpulangannya ini (lagi), saya jadi teringat ketika dulu masih di kostan, baik ketika libur lebaran maupun libur semesteran, ia menjadi satu-satunya yang bertahan di kostan, sementara saya dan kawan-kawan lainnya telah pulang. Saya sempat heran dengan kuatnya ia bertahan sendiri di kostan, padahal ketika kami berkumpul di ruang tv kostan setiap malam, kami selalu membicarakan cerita-cerita horror yang ada di kost, dan setiap kali kami bercerita hal itu, ia menjadi yang paling ketakutan.

Kuatnya ia bertahan sendiri di kostan dan ketidakpulangannya, membuat saya dan kawan-kawan sering mencandainya dengan julukan “penunggu kost”. Dasar kawan saya itu orangnya memang kocak, ia selalu santai menanggapinya dan tak pernah marah bila kami menyebutnya demikian ketika mendekati waktu libur semesteran. Ia justru menikmati kesendiriannya di kostan, terutama koneksi wifi kost yang jadi super kencang karena yang menggunakannya hanya dia seorang, katanya dengan riang.

Tapi, ketika lebaran datang, apakah ia merayakannya sendirian di kostan dengan senang juga? Tahun kemarin saya pernah menanyakan hal seperti ini ketika mendengar bahwa ia tidak mudik ke kampung halaman. Namun, alhamdulillahnya, ia tak merayakan lebaran di perantauan sendirian. Katanya, ia akan merayakannya dengan kawan-kawan yang senasib dengannya.

Tahun kemarin ketika libur lebaran telah berakhir, dan saya bersama kawan-kawan lainnya telah kembali ke kost, saya pernah bertanya kepadanya, apakah lebarannya menyenangkan. Dia pun dengan antusias menjawab “iya”, dan kemudian menceritakan tentang keseruan lebarannya itu. Ya, meskipun ia sempat mengakui kalau ada perasaan sedih sebab belum dapat berkesempatan berlebaran di kampung halaman, tetapi baginya merayakannya di perantauan tetap terasa menyenangkan. Iya, menyenangkan, karena masih dapat merasakannya dalam sebuah kebersamaan, jawabnya.

Hmmm..., kebersamaan, sebuah hal yang seketika itu mengingatkan saya untuk kembali menyelisik mengenai makna lebaran. Dari cerita tentang kawan saya tadi, saya jadi kembali merasakan adanya makna penting dari lebaran yang sudah lama saya lupakan. Makna sederhana, yang mengingatkan bahwa lebaran itu bukan tentang bermewah-mewahan, bukan tentang gemerlapnya penampilan, bukan tentang serba barunya yang dikenakan, dan juga bukan tentang berapa banyak rezeki yang berhasil dikumpulkan. Makna lebaran itu lebih tentang kebersamaan dalam kebaikan yang saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan.

Ya, sekiranya seperti itu makna lebaran menurut saya. Kalau menurut kamu, apa makna lebaran itu? Mungkin kamu memiliki pendapat yang berbeda dengan saya, dan bisa kamu tuliskan di kolom komentar di bawah ini.

Oh, iya, berhubung besok sudah lebaran, saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” bagi yang merayakan. Bila ada salah kata maupun perbuatan, mohon dimaafkan. Dan baik di kampung halaman ataupun di perantauan, semoga lebaranmu tetap berkesan dan menyenangkan. Salam... 🙏

NgeShare - Lebaran

Load comments

No comments