NgeShare - Pengalaman Pertama Mengurus Balik Nama Motor di Samsat

by - 5/21/2024


Sekitar 3 mingguan yang lalu, ketika saya lagi scroll-scroll beranda akun X (Twitter) saya, saya menjumpai sebuah cuitan yang cukup ramai direspon oleh warganet. Cuitan yang setelah saya baca ternyata mengenai keluh kesah seseorang yang ingin membayar pajak tahunan kendaraan atas nama ayahnya yang telah meninggal. Untuk lebih jelasnya terkait cuitan itu, sepertinya ndak perlu saya ceritakan lebih detail ya. Soalnya cuitannya ada di bawah ini. Jadi, monggo bisa disimak lebih lanjut ya, hehe…


Selesai membaca cuitan itu, saya jadi teringat dengan nasib Shogi, motor lama alm. Bapak yang sebelumnya pernah saya post ceritanya di blog ini dengan judul “NgeShare - Motor Lama Bapak”. Kenapa saya jadi teringat nasib si Shogi? Ya soalnya sebentar lagi sudah waktunya si Shogi ini dibayar pajak tahunannya. Tapi saya juga khawatir bila sewaktu akan membayar pajak tahunannya justru akan bernasib sama seperti cuitan tersebut. Kekhawatiran ini muncul juga karena STNK maupun BPKB Shogi masih atas nama alm. Bapak. Padahal NIK alm. Bapak sudah lama statusnya non-aktif sejak beberapa bulan lalu setelah saya mengajukan akte kematiannya.

Karena merasa eman kalau nasib Shogi mati pajaknya, muncul niatan saya untuk mencoba mengajukan proses balik namanya. Ya mumpung saya juga lagi ada waktu luang, jadi saya pikir hal ini bisa saya lakukan dengan segera. Tapi sebelum menunaikan niatan itu, mula-mula saya nyoba untuk mencari info terkait berkas persyaratan dan alur pengajuannya. Hal ini saya lakukan agar nanti ketika mengajukan prosesnya, saya ndak bingung dan ndak harus bolak-balik apabila ada kekurangan berkas persyaratan yang dibawa. Maklum, baru pengalaman pertama, hehe…

Ok, lanjut lagi. Untuk info terkait berkas persyaratan dan alur pengajuannya, saya awalnya browsing di internet dan nemulah beberapa artikel. Beberapa artikel itu menerangkan dengan jelas terkait berkas-berkas yang perlu disiapkan dan juga alur pengajuan balik nama kendaraan milik orang tua yang sudah meninggal.




Namun, pencarian info saya tidak selesai sampai di situ. Saya mencoba mencari info lagi di lain sumber. Info lainnya akhirnya saya peroleh dari website Samsat Ngawi yang saya dapati tautannya pada akun Instagram resmi instansi tersebut. Kenapa nyari infonya di Samsat Ngawi? Ya karena di kanto Samsat Ngawi inilah saya akan mengajukan proses balik namanya. Selain itu karena kan saya dan juga Shogi domisilinya di Kabupaten Ngawi, hehe…

Tampilan website Samsat Ngawi.

Instagram resmi Samsat Ngawi.

Nah, di website Samsat Ngawi ini saya mendapat info yang cukup berbeda dari info yang sebelumnya saya dapat di beberapa artikel di atas. Perbedaan itu terutama pada beberapa berkas persyaratannya. Oiya, info terkait berkas balik nama ini saya dapat di menu “PROSES BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR”, ya.

Sumber: sites.google.com/view/letokngawi/home.

Tentunya dengan adanya perbedaan ini membuat saya cukup bingung. Daripada terlalu lama kebingungan, saya kemudian nyoba untuk konfirmasi ke nomor WA Center Samsat Ngawi terkait berkas persyaratan tersebut. Meskipun responnya cukup lama, saya akhirnya mendapat pencerahan, haha…



Dua hari setelah saya mendapat jawaban dari pihak Samsat melalui WA, saya akhirnya memantapkan diri untuk berangkat ke Samsat dan mengurus pengajuan balik nama si Shogi. Saya berangkat dari rumah bersama Shogi sekitar pukul 07:46 WIB. Sampai di kantor Samsat Ngawi sekitar pukul 08:01 WIB. Setibanya di sana, saya langsung mengantrikan Shogi di area cek fisik kendaraan Samsat Ngawi yang letaknya ada di halaman kantor.


Sebelum dilakukan pengecekan fisik kendaraan yang meliputi cek nomor rangka dan nomor mesin oleh petugas, saya diarahkan oleh petugas untuk mengambil formulir cek fisik kendaraan yang tersedia di depan loket cek fisik.

Selesai si Shogi dicek fisik, saya lalu mencoba untuk bertanya ke petugas terkait alur setelah pengecekan fisik kendaraan. Oleh petugas cek fisik, saya diarahkan untuk ke ruang fotocopy Samsat Ngawi yang letaknya ada di sebelah barat kantor. Di ruang fotocopy ini, setelah saya menjelaskan keperluan saya ke petugas fotocopy, saya diarahkan oleh petugas tersebut untuk menyiapkan beberapa berkas yang akan difotocopy seperti BPKB, STNK, dan KTP pemohon (saya). Di ruang fotocopy ini juga saya menyerahkan formulir cek fisik yang ternyata pengisiannya dibantu oleh petugas yang berada di ruang tersebut. Selain itu ternyata di ruang ini juga membantu pembuatan kwitansi bermaterai yang akan digunakan untuk proses balik nama.


Setelah menunggu sekitar 20 menit dan membayar Rp15.000,00 untuk keperluan berkas-berkas tadi, saya diarahkan oleh petugas fotocopy untuk kembali ke loket cek fisik guna meminta tanda tangan dari petugas cek fisik. Kemudian dari loket cek fisik, saya menuju ke ruang verifikasi yang letaknya ada di sebelah barat ruang pelayanan atau sebelah selatannya ruang fotocopy. Di ruang verifikasi ini, berkas-berkas yang sebelumnya sudah disiapkan untuk persyaratan akan diperiksa keabsahannya oleh petugas verifikasi.


Selesai keperluan di ruang verifikasi, saya lanjut menuju ke ruang pelayanan dan langsung menuju ke loket pendaftaran. Nah, di loket pendaftaran ini, selain menyerahkan berkas persyaratan ke petugas, saya juga membayar biaya penerbitan BPKB senilai Rp225.000,00. Lalu saya diarahkan untuk menunggu sebelum nantinya dipanggil oleh petugas.


Selang 30 menit berlalu, saya akhirnya dipanggil petugas untuk menuju ke kasir 1. Di kasir 1 ini, saya melakukan pembayaran untuk proses pengajuan balik nama Shogi sebesar Rp428.000,00. Selesai membayar, saya diarahkan kembali oleh petugas untuk menunggu sebelum nantinya dipanggil untuk pengambilan TNKB (plat nomor) baru di loket penyerahan TNKB.

Sekitar 45 menitan, barulah saya dipanggil oleh petugas di loket penyerahan TNKB. Di loket penyerahan TNKB ini, saya mendapat bukti pembayaran dan TNKB baru. Selain itu, petugas di loket ini juga menginfokan terkait jadwal pengambilan BPKB dan juga STNK yang baru nantinya bisa diambil pada bulan September.

Rampung (selesai) dari loket penyerahan TNKB, maka selesailah keperluan saya di kantor Samsat pada hari itu. Saya tinggal menunggu hingga bulan September untuk kembali ke sana. Nah, sekiranya itulah cerita pengalaman pertama saya ketika mengurus balik nama motor di Samsat. Kalau untuk cerita ketika mengambil BPKB dan STNK barunya nanti, jika ada kesempatan mungkin akan saya ceritakan juga di sini. Sekian dan terima kasih sudah mau meluangkan waktu di sini. Semoga ceritanya bermanfaat, ya. 😁

Sawer


Anda suka dengan tulisan-tulisan di blog ini? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan blog ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol sawer di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

6 comments

  1. Aku juga pernah melewati proses balik nama kepemilikan. Yang paling penting bawa ktp, stnk, dan bpkb. Nanti di samsat bisa tanya petugasnya biar ga bingung. Ya memang melelahkan bakal mondar-mandir, tapi kita hanya perlu mengikuti alur prosesnya dan arahan petugas. Dijamin bakal seelsai dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, yang penting 3 berkas itu, kalaupun ada keraguan/ bingung sama prosesnya bisa kepo dulu ke petugasnya hehe

      Hapus
  2. Saya belum lama juga kelar ngurus pajak motor. Bukan cuma balik nama, tapi juga sekalian mutasi beda daerah. Kebayang gatuh ruwetnya hahaha

    Sebenarnya asalkan data-data yang diminta ada semua, harusnya ga begitu sulit. Cuma yang jadi masalah, dari sisi informasi kurang (tidak ada web resmi yang mengacu untuk se-indonesia), lalu prosesnya juga panjang dan belibet, dioper kesana-sini. Mangkanya aku suka bilang, ngurus pajak tuh sebenernya olahraga kardio cuma dibungkus pajek aja hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mutasi? denger katanya aja udah kebayang ribetnya mas wkwkw

      nah betul mas, kalau saja ada informasi yang mudah diakses & diperoleh, yakin deh bakal banyak banget yang seneng, toh jaman sekarang apa-apa juga serba digital kan ya, hehe

      wkwkwk betul mas, itung-itung cari keringat juga

      Hapus
  3. hal yang membuat sedikit malas untuk mengerus sesuatu adalah berkas-berkasnya heheh. Salam kenal bang. Semoga sehat selalu dan konsisten

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya mas, andaikan bisa dibuat lebih praktis ya

      salam kenal juga mas & sehat selalu ya

      Hapus