Januari sudah berjalan 19 hari, tapi saya belum sempat mengucapkan selamat tahun baru. Ya, meskipun sudah terlewat, tak ada salahnya kan untuk sekadar mengucap, "Selamat tahun baru, ya, hehe..."

Ngomong-ngomong soal tahun baru, pasti identik dengan perayaan malam pergantian tahun. Kembang api, terompet, bakar-bakar daging atau jagung jadi pelengkap momen perayaan tersebut bersama orang-orang terdekat.

Nah, kalau boleh bertanya dan kalau postingan ini ada yang baca, kawan-kawan pembaca apakah waktu malam pergantian tahun kemarin juga merayakannya? Jika iya, selamat, ya. Kamu masih diberi kesempatan untuk bisa merayakannya. Semoga tahun depan masih bisa merasakan hal serupa, ya.

Tapi, di tengah riuhnya momen perayaan tahun baru kemarin, saya percaya bahwa pasti ada yang melaluinya dengan tidur lebih awal. Merasakannya seperti malam atau hari-hari biasa. Pasti ada, kan? Ya, ada kok, salah satunya saya, wkwkwk...

Seperti malam pergantian tahun yang lalu-lalu, saya tak pernah merayakannya. Tidur lebih awal jadi pilihan yang selalu saya pilih. Selain memang karena di keluarga saya tak pernah merayakannya, saya juga merasa kalau lebih baik melalui malam pergantian tahun dengan beristirahat bobok cantik, hehe...

Tapi di malam pergantian tahun kemarin dengan malam-malam pergantian tahun yang telah lalu, ada perbedaan yang saya rasakan. Kalau di tahun-tahun lalu saya berusaha untuk tidur lebih awal dan kemudian ngelilir atau terbangun dini hari sewaktu mendengar suara kembang api, lain halnya dengan malam pergantian tahun kemarin. Saya justru merasa mengantuk sekali dan selama tidur, saya sama sekali tidak terbangun dini hari seperti biasanya. Rasanya pada malam pergantian tahun kemarin, tidur saya nyenyak sekali.

Walaupun begitu, ada kegiatan serupa yang selalu saya lakukan di esok harinya atau di hari pertama tahun baru. Kegiatan tersebut ialah bersepeda. Bedanya kalau awal tahun baru yang telah lalu-lalu saya bersepeda untuk melihat kondisi jalanan yang selalu dihiasi sampah, awal tahun kemarin saya bersepeda untuk menunaikan rencana tahun kemarin yang belum sempat terlaksana.

Yups, tahun kemarin alias 2025, saya pernah berencana untuk bersepeda ke Waduk Pondok. Kalau di antara kawan pembaca ada yang orang Ngawi, pasti familiar sekali dengan waduk ini. Waduk atau bendungan legend di Kabupaten Ngawi ini menjadi salah satu destinasi bersepeda yang sudah lama saya cita-citakan. Selain karena jaraknya dari rumah saya yang cukup menantang, juga karena saya ingin mencoba menikmati suasananya di sana dengan bersepeda. Sebuah hal yang belum pernah sama sekali saya lakukan sebelumnya. Untungnya rencana lama itu bisa saya tunaikan awal tahun kemarin. Ditemani seorang kawan, saya mulai kegiatan bersepeda di hari pertama tahun 2026 sekitar pukul lima pagi menuju Waduk Pondok.

Bersepeda waktu itu awalnya berjalan dengan baik dan lancar-lancar saja. Tapi, ya namanya musibah tak ada yang tau datangnya kapan. Jadi, di tengah perjalanan, tiba-tiba pedal sepeda saya terasa kendo dan hampir lepas. Saya mulai menyadari bahwa ada yang tak beres dengan sepeda saya. Dan benar saja, ketika berhenti dan mengecek sepeda, ternyata tutup crank sepeda saya lepas.

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

"Aku berhenti dulu bro. Tutup crank sepedaku lepas," tulis saya pada pesan WA yang kemudian saya kirim ke kawan yang menemani saya bersepeda tadi. Ya, saya terpaksa mengirim kawan saya pesan WA karena kawan saya sudah cukup jauh jaraknya di depan saya. Tak lama berselang, kawan saya tadi langsung menghampiri saya yang sedang berusaha membetulkan posisi pedal sepeda.

"Tunggu di sini dulu ya bro. Aku mau nyari tutup  cranknya yang jatuh dulu. Kali aja jatuhnya masih deket sini," ujar saya pada kawan saya yang kemudian menjaga sepeda saya di pinggir jalan. Saya mencoba menelusuri jalanan yang saya lalui sebelum tutup  crank sepeda saya hilang. "Kalau masih rezeki, pasti ketemu lagi. Kalau nggak ketemu, ya bukan rejekinya," batin saya dalam hati sewaktu menelusuri jalan dengan berjalan kaki.

Sekitar 20 menit saya berjalan kaki mencari tutup crank saya yang hilang di jalanan yang sebelumnya saya lalui dengan bersepeda, saya memutuskan untuk menyerah. "Yah, bukan rejekinya. Padahal sebentar lagi sampai lokasi," sesal saya dalam hati. Namun, sewaktu saya berjalan menghampiri kawan saya yang sedang menunggu dan menjaga sepeda saya, saya melihat ada sebuah benda yang tidak asing jatuh di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari lokasi sepeda dan kawan saya menunggu. Saya hampiri dan ambil benda itu yang ternyata tutup crank sepeda saya yang lepas. Sayangnya momen pas musibah ini terjadi tidak saya abadikan. Ya, gimana mau mengabadikannya, lha wong keadaannya lagi agak panik og, hehe....

Tutup  crank sudah ketemu, eh tapi masalah tidak berhenti di situ saja. Masalah lain muncul ketika saya akan memasang tutup cranknya. Tututp cranknya memang bisa terpasang lagi, tapi belum begitu kencang. Perlu dikencangkan menggunakan obeng, terutama obeng L. Sayangnya waktu itu saya tidak membawa obeng. "Ah, harusnya kalau sepedaan jarak jauh gini, saya harusnya bawa obeng buat jaga-jaga kalau ada kejadian semacam ini," sesal saya dalam hati.

"Mau lanjut atau balik pulang?" tanya kawan saya.

"Lanjut aja bro, nanggung udah sampai sini. Bentar lagi juga kan sampai lokasi," jawab saya meyakinkannya.

"Oke bro, kali aja nanti di jalan ketemu bengkel atau komunitas sepeda yang bawa obeng," sahut kawan saya.

Pada akhirnya saya dan juga kawan saya melanjutkan perjalanan. Tapi kami harus mengurangi kecepatan, jaga-jaga supaya tutup crank saya tidak lepas lagi. Sekitar lima belas menit sebelum tiba di lokasi, kami berdua menjumpai ada sekelompok komunitas sepeda bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang berhenti di pinggir jalan. Kami lihat beberapa anggota komunitas itu sedang memperbaiki salah satu sepeda. Dan benar saja, salah satu anggotanya sedang membawa obeng.

"Boleh pinjam obengnya, Pak? Mau saya pakai buat mengencangi tutup crank saya yang kendo," izin saya kepada seorang bapak-bapak anggota komunitas sepeda.

"Ada mas, tapi sepertinya obengnya kurang besar. Tak cobane dulu ya," jawab bapak-bapak tersebut sambil langsung mencoba mengencangi tutup crank sepeda saya.

"Alhamdulillah, terima kasih, Pak," sahut saya setelah bapak-bapak tersebut selesai mengencangi cranknya.

Usai tutup crank saya selesai dikencangi dan saya mengobrol sebentar dengan komunitas sepeda bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut, saya dan juga kawan saya melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul tujuh lebih 20 menit, kami berdua tiba di Waduk Pondok. Di sana, kami tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menitan sebelum akhirnya memulai perjalanan pulang.

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

Sembari bersepeda pulang, kami berdua yang sedari rumah belum makan apa-apa alias belum sarapan, menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah warung di pinggir jalan raya. Sebuah warung nasi pecel yang penjualnya ibu-ibu berusia agak sepuh. Seporsi nasi pecel dengan gorengan tempe ditambah telur dadar dan segelas es teh jadi pilihan menu sarapan saya waktu itu. Sementara kawan saya hanya memilih nasi pecel saja tanpa minuman. Seberes sarapan dan selesai berbincang-bincang dengan ibu-ibu pemilik warung, saya dan kawan saya melanjutkan perjalanan pulang.

NgeShare - Kegiatan di Awal Tahun

Di perjalanan pulang, ada rasa lelah tapi juga disertai perasaan sumringah. Tentunya hal itu dikarenakan salah satu rencana saya di tahun kemarin bisa saya realisasikan. Ya, meskipun sebenarnya masih ada banyak rencana tahun kemarin yang belum bisa diwujudkan, tapi setidaknya salah satunya sudah telaksana. Ya, satu persatu pasti nantinya bisa terwujud. Kalaupun belum bisa, ya sabar dulu. Menunggu waktu yang tepat atau mencoba rencana lain yang lebih mudah diwujudkan.

Ah, iya, btw kegiatan bersepeda ini sempat saya abadikan secara singkat pada video reels Instagram. Memang tidak begitu apik saya memvideokannya. Tapi saya rasa ini sudah cukup sebagai kenang-kenangan di kemudian hari. Dan barangkali ada di antara kawan-kawan yang penasaran dengan kegiatan bersepeda saya secara visual menuju ke Waduk Pondok. Bisa ditonton video pendeknya di bawah ini, ya, hehe...