NgeShare - Sepeda Caca
Akhirnya sepeda itu digunakan lagi setelah setahun tak dipakai. Aku ingat membelinya untuk Caca, ketika usianya masih 2 tahun. Kubelikan karena mengingat salah satu keinginan alm. Bapak yang belum sempat terlaksana. "Nanti kalau kamu sudah agak besar, mbah kung belikan sepeda, ya, Nduk," ujar alm. Bapak waktu itu yang sedang menggendong Caca.
Berhubung masih ada rejeki dan mumpung teringat keinginan alm. Bapak, aku memutuskan untuk membeli sepeda ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang kedua. Aku masih ingat betul waktu pertama kali Caca melihat sepeda ini. Ia bingung sesaat, sebelum akhirnya tertawa setelah kunaikan ia ke atas sepedanya. Ia terlihat senang ketika sepeda mulai kudorong dan kuajak berkeliling. Sayangnya setelah Caca sudah bisa berjalan, sepeda roda tiga ini mulai jarang digunakan. Ditambah lagi aku yang mulai kembali sibuk bekerja tak sempat mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda roda tiganya.
Tak terasa sepeda itu hanya terparkir di garasi hampir 2 tahun. Melihat Jian (adik Caca) yang sudah mulai terlihat agak besar dan bisa duduk, aku jadi teringat dengan sepeda Caca yang ada di garasi. "Sepertinya Jian sudah bisa didudukan di sepeda ini," batinku dalam hati. Kalau Jian bisa pakai sepeda ini, jika nanti aku atau pengasuhnya mau mengajaknya jalan-jalan, Jian tidak perlu digendong lagi, pikirku juga waktu melihat sepeda Caca.
Hampir 2 tahun sepeda ini tak terpakai, tentunya ia tak lepas dari debu-debu dan kotoran. Aku memutuskan untuk membersihkannya. Selesai mencuci motor, aku lanjutkan dengan mencuci sepeda Caca.
Ya, maklum hampir 2 tahun tidak digunakan, kotornya sepeda Caca sudah minta ampun. Selesai mencuci sepeda Caca, aku menjemurnya di bawah sinar matahari langsung. Berharap bisa cepat kering dan digunakan Jian. Eh, tapi belum sempat kering ternyata Mbak (ibunya Caca & Jian) mencuci ulang sepeda itu.
"Tak cuci lagi ya, masih ada kotoran yang perlu disikat ini," ujar Mbak sambil menyikat jok sepeda Caca. Esoknya, sepeda itu baru kering. Dan ketika sudah kering, ibunya Caca membawa sepeda itu ke dalam rumah dengan maksud akan mencoba mendudukan Jian di sepeda itu. Ah, tapi belum sempat mendudukan Jian, Caca buru-buru naik ke sepeda itu. "Wah, ini sepedaku," ujarnya dengan begitu riang.
Alhasil, rencana Mbak waktu itu terhenti sejenak. Mbak menunggu Caca merasa bosan dulu dengan sepedanya. Ketika Caca sudah bosan dengan sepedanya, barulah Mbak mendudukan Jian di sepeda itu. Jian awalnua merasa bingung, sebelum akhirnya terlihat senang dengan kakinua yang terus-terusan bergerak. Ah, tapi baru sekitar 15 menit Jian duduk di atas sepeda itu, Caca protes dengan berkata, "Mama, itu sepedaku!"
Mendengar kalimat protes Caca, Mbak geleng-geleng kepala sebelum akhirnya berkata, "Jian pinjam sebentar sepedanya, ya, Kak." Sayangnya Caca belum begitu mengerti dan memaksa agar Jian turun dari sepedanya. Lucunya beberapa hari setelah kejadian itu, Caca terlihat lebih sering mendorong sepeda yang sedang dinaiki adiknya. Ia nampak seperti seorang kakak yang sedang ngemong/ mengasuh adiknya.
"Kalau saja Mbah Kung & Mbah Uti kalian masih ada, mungkin mereka berdua akan tertawa melihat tingkah laku kalian berdua," batinku dalam hati saat melihat Caca sedang mendorong sepeda yang dinaiki adiknya.
Tidak ada komentar: