NgeShare - Sampah, Incinerator, dan Tel-Urator

by - 3/05/2024


Sampah merupakan sebuah hal yang barang tentu sudah lama kita kenali dan juga sering jumpai. Jika kita lihat, sampai saat ini sampah masih menjadi salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh manusia sehari-hari. Terutama soal pengelolaannya. Bila hanya langsung dibuang tanpa adanya proses pengelolaan yang baik, tentunya ini akan menimbulkan masalah baru.

Saya jadi teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan sempat ramai dimuat di berita. Darurat sampah dan lahan pembuangan yang terbatas. Membuat adanya penumpukan sampah dan terganggunya kenyamanan masyarakat. Alhasil, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam menangani sampah rumah tangganya.

Sudah kita ketahui bersama bahwa secara umum sampah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan juga sampah anorganik. Untuk sampah organik, kita bisa dengan mudah mendaurnya. Lain halnya dengan sampah anorganik yang perlu penanganan khusus untuk dapat mendaur atau mengolahnya.

Dalam mengolah sampah anorganik, kita tahu ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Salah satunya ialah membakarnya dengan menggunakan alat yang bernama incinerator sampah. Ya, incinerator sampah, sebuah alat yang dikenal untuk membakar limbah/ sampah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu.

Sebenarnya alat incinerator sampah ini sudah cukup lama ditemukan, tapi sayangnya belum begitu banyak yang mengenal. Kurangnya sosialisasi jadi faktor utamanya. Padahal alat ini sangat efektif untuk mengurangi jumlah timbunan sampah, terutama sampah anorganik.

Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa alat incinerator sampah yang digunakan, dan salah satunya adalah Incinerator Tel-Urator atau Telurator. Alat incinerator sampah yang dibuat oleh PT. Bhakti Unggul Teknovasi, perusahaan alih teknologi dari hasil riset Telkom University.

Sumber foto: but.co.id/products/incinerator/

Alat yang telah dikembangkan sejak 3-4 tahun ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah timbunan sampah. Bukan tanpa alasan, sebab alat ini memiliki kapasitas pembakaran 300 kg/ jam atau 2 ton/ hari. Selain itu, Tel-Urator ini juga memiliki beberapa kelebihan seperti minim asap, mampu membakar sampah kering dan basah, kecepatan bakar yang cepat, dilengkapi sistem cyclone yang membuat abu terbang terperangkap dan terbakar ulang, biaya operasional yang murah, dilengkapi insulator dan refractory yang membuat suhu tidak menyebar, serta yang paling penting alat ini sudah teruji emisi.

Wah, inovasi yang bagus, ya. Sayangnya dengan hadirnya inovasi ini, hadir pula perdebatan terkait dampak penggunaannya. Namun, saya rasa alat incinerator sampah seperti halnya Tel-Urator ini akan tetap menjadi solusi baik selama digunakan dengan tepat.

Beranjak dari penjelasan di atas, permasalahan sampah memang bukanlah hal yang mudah. Tentunya dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk dapat menyelesaikannya. Mungkin akan butuh beberapa waktu untuk akhirnya bisa berjalan sesuai harapan. Tapi dalam jangka panjang, tentu akan baik sekali. Jadi, bagaimana menurut kamu?

Sawer


Anda suka dengan tulisan-tulisan di blog ini? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan blog ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol sawer di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

4 comments

  1. Saya baru dengar nama alat ini mas..iya barangkali karena kurang sosialisasi juga...selalu ada pro kontra, tapi mudah-mudahan sih dengan adanya alat ini sampah "bisa teratasi, gak kebayang kalau sampah menggunung di biarkan saja tanpa adanya penyelesaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tentunya bila tak ada penyelesaian akan membuat banyak pihak kerepotan ya mbak, iya semoga bisa teratasi dengan baik ya mbak

      Hapus
  2. Aku pernah lihat alat ini, kayaknya pas di twitter. Seandainya saja alat ini bisa diproduksi massal dan dikirimkan ke tiap RW atau desa/kelurahan untuk operasionalnya kemungkinan masalah sampah bisa teratasi dengan baik. Sampah langsung ditangani di bagian hulu sehingga pengelolaan pasar bisa berjalan secara maksimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas, tapi sayang kurangnya sosialisasi dan juga kepedulian dari berbagai pihak yang saya rasa menghambat terealisasinya ide ini :')

      Hapus