"Pak, kandang ayamnya bapak sekarang sudah ada penghuninya lagi lho," batin saya dalam hati usai melepaskan tiga ekor ayam petelur di kandang ayam peninggalan almarhum Bapak.
Hampir tiga tahun ini kandang ayam milik alm. Bapak kosong. Padahal dulunya ketika alm. Bapak masih ada, kandang ayam ini lumayan ramai dihiasi suara kokok ayam. Seingat saya dulu kandang ayam ini jadi salah satu tempat favorit alm. Bapak melepas penat selain tegalan dekat rumah.
"Bapak ke kandang dulu ya, mau ngasih makan ayam," pamit alm. Bapak yang selalu saya ingat setiap pagi dan sore hari. Kadang ia akan pulang membawa beberapa telur sambil berkata dengan tersenyum, "Ayamnya bapak habis bertelur, lumayan bisa buat lauk."
Oiya, sebelum mendirikan kandang ayam di dekat rumah mbak (ibunya Caca) ini, dulu sewaktu saya kecil, alm. Bapak juga pernah punya kandang ayam di dekat rumahnya. Namun, ketika saya duduk di bangku SD kelas 3, alm. Bapak memutuskan untuk tidak memelihara ayam lagi. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika saya sudah dewasa, alm. Bapak memutuskan untuk kembali memelihara beberapa ekor ayam.
Bermula dari sepasang ayam pemberian dari besan (mertua ibunya Caca), alm. Bapak memulai kegiatan ternak ayamnya. Kebetulan keinginan alm. Bapak didukung dengan adanya sedikit lahan kosong di samping rumah mbak. Alhasil, dibantu seorang tetangga, beliau mendirikan kandang ayam ini.
Dari sepasang ayam jenis bangkok, alm. Bapak membeli lagi 8 ekor ayam dengan jenis yang sama. "Biar ramai penghuninya," ujar alm. Bapak waktu itu.
Kalau diingat-ingat juga, dulu alm. Bapak sering mengajak Caca ke kandang ayam ini. Bukan mengajaknya masuk ke dalamnya sih, hanya mengajaknya melihat ayam-ayamnya dari celah-celah depan pintu kandang yang terbuat dari beberapa potong bambu. Saya beberapa kali menjumpai momen seperti itu dan ketika saya melihatnya, alm. Bapak terlihat begitu senang memperlihatkan ayam-ayamnya pada cucu perempuan kesayangannya. Setiap kali melihat momen itu juga saya selalu membatin dalam hati, "Ah, andai almh. Ibu masih ada, barangkali akan terasa lebih menyenangkan kan, Pak?"
![]() |
| Bagian dalam kandang ayam alm. Bapak. |
Sepeninggal alm. Bapak, membuat saya memilih untuk mengosongkan kandang ayamnya. Sebenarmya waktu itu, saya masih ingin meneruskan peninggalan alm. Bapak yang satu ini, tapi di sisi lain saya harus menjaga Caca. Khawatir tak sempat mengurus ayam-ayam peliharaan alm. Bapak, saya memutuskan untuk memberikan ayam-ayam tersebut ke salah satu tetangga. "Kalau diberikan ke Pak xxx, ayam-ayam bapak barangkli bisa lebih terawat," ucap saya pada mbak (ibunya Caca) ketika memutuskan hal tersebut.
Selang hampir tiga tahun kandang ayam alm. Bapak kosong, sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk mengisi kembali kandang ayamnya dengan tiga ekor ayam. Memang tak begitu banyak, tapi lumayan sebagai pengisi kandang sekaligus hiburan, terutama hiburan untuk Caca dan adiknya. Ah, iya, setiap kali saya akan memberi makan ayam-ayam peliharaan saya, Caca akan meminta izin pada ibunya seperti ini, "Mamah, aku ikut om kasih makan ayam, ya."
Andai alm. Bapak masih ada, barangkali Caca akan sering mengikutinya memberi makan ayam. Selain itu, pasti alm. Bapak juga akan tertawa ketika melihat Caca mengejar ayam-ayamnya atau justru malah sebaliknya, hehe...
Btw, sebelum memutuskan untuk kembali mengisi kandang ayam alm. Bapak, tentunya saya memulainya dengan membersihkannya lebih dulu. Merapikan dan membetulkan beberapa bagian kandang yang terlihat rusak. Lalu menaburkan beberapa karung sekam basah dan kapur deloit. Tujuan saya beri sekam basah sendiri di kandang sebagai media ceker-ceker ayam. Sedangkan penaburan kapur deloit tujuannya agar kandang ayamnya tidak menimbulkan bau yang menyengat.
![]() |
| Setelah penaburan sekam basah & kapur deloit. |
Sekitar 3 hari saya mempersiapkan kandang ayam alm. Bapak sebelum mengisinya kembali. Setelah saya rasa kandangnya sudah siap, saya menghubungi seorang kawan yang menjual ayam. Sebenarnya kawan saya ini menjual dua jenis ayam, yaitu ayam KUB dan ayam petelur. Saya sendiri memilih ayam petelur, selain karena harganya yang lebih murah juga karena saya memelihara ayam hanya untuk diambil telurnya bukan dagingnya. Toh, ini juga bukan untuk bisnis, sekadar untuk hiburan saja. Jadi, saya rasa ayam petelur dengan jumlah yang tidak banyak ini sudah cukup untuk memulai menghidupkan kembali kandang ayam peninggalan alm. Bapak.
Oiya, setelah melepas 3 ekor ayam ke dalam kandang ayam alm. Bapak, saya merasa tak akan terjadi hal yang buruk. Tapi, dua hari setelahnya, ketika pagi-pagi saya akan memberi makan ayam, dari 3 ekor ayam yang saya pelihara, hanya tersisa dua. Melihat ketidaklengkapan itu, tentunya saya merasa gelisah. "Kalau dimakan tikus atau ular, bukannya harusnya ada suara berisik tadi malam? Apa ayamya lepas, ya? Tapi lepas kemana?" tanya saya dalam hati waktu itu.
Dengan cepat, saya mencoba untuk mengecek sekeliling kandang. Baik di dalam maupun di luarnya. Selang setengah jam, saya menjumpai 1 ekor ayam saya yang ternyata lepas ke lahan kosong di samping rumah mbak. Menjumpainya sedang nongki santai di atas dahan pohon mangga. Saya lantas mencoba untuk menangkapnya. Tapi, ah sialnya ayam itu lebih gesit dari saya. Apalagi ditambah medan yang cukup sulit dan luas lahan yang lumayan luas. Hampir satu jam saya mengejarnya, dan berujung pada bendera putih yang saya kibarkan alias saya menyerah karena lelah dan harus buru-buru berangkat kerja.
"Yah, kalau masih rezeki, nanti balik lagi. Kalau belum, ya udah diikhlasin aja," batin saya dalam hati sambil ngos-ngosan. Dan benar saja ternyata ayam itu masih rezeki saya. Sore hari sepulang kerja, ketika saya akan memberi makan ayam, saya menjumpai ayam yang lepas itu sudah ada di dalam kandang.
![]() |
| Celah di kandang yang sudah tertutup. |
Usai kejadian lepasnya ayam saya itu, saya kemudian menutup beberapa celah di atas kandang menggunakan jaring pagar plastik. Usut punya usut, ternyata ayam saya lepas karena celah itu yang dengan mudahnya bisa dilalui ayam-ayam peliharaan saya. Nah, sekarang sepertinya ayam saya tak akan lepas lagi. Iya, jangan lepas lagi ya yam, cukup harapanku saja yang lepas, kalian jangan ya. Betah-betah di sini dan semoga nyaman. Saya tunggu telur-telur kalian, ya, hehe...

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


0 Comments
Posting Komentar