Tiap kali pergi ke kebun dan melihat pohon jeruk pecel ini, saya jadi selalu teringat dengan kebiasaan yang dulu dilakukan oleh almarhumah Ibu di pagi hari. Selesai melakukan pekerjaan rumah, beliau akan keluar rumah sebentar dengan sepeda onthel kesayangannya sambil membawa dua botol plastik bekas ukuran 1,5 liter yang telah diisi air. "Ibu mau ke kebun dulu, ya. Mau nyirami tanaman," ujarnya berpamitan kepada saya yang saat itu masih menganggur.
Ya, betul, dua botol plastik berisi air itu akan beliau gunakan untuk menyirami tanaman yang ada di kebun milik almarhum Bapak. Kalau ditanya kenapa menyiraminya pakai air yang diisi pada dua wadah botol bekas, jawabnya sederhana. Ya, karena di kebun alm. Bapak belum ada sumber airnya. Sebenarnya bisa-bisa saja mendatangkan sumber air dengan membuat sumur atau memasang saluran air dari PDAM. Tapi, mengingat kebun itu bukan kebun komersil dan hanya sekadar ditanami untuk kebutuhan sendiri, alm. Bapak belum memiliki niatan untuk membuat sumber air di kebunnya.
Ah, iya, btw jarak antara rumah dengan kebun sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi kalau pulang perginya jalan kaki, apalagi di saat cuaca sedang panas sekali, rasanya akan cukup melelahkan. Jadi, sepeda onthel merupakan pilihan bijak untuk menuju ke sana. Selain karena biar hemat plus sehat, juga agar tidak menimbulkan polusi udara, ya, hehe...
Kembali lagi ke perihal almh. Ibu yang pergi ke kebun. Setau saya, almh. Ibu memelihara beberapa tanaman waktu itu. Seingat saya ada tanaman srikaya, jambu biji, dan tanaman jeruk pecel yang telah saya ceritakan di awal tadi. Untuk tanaman jeruk pecel, setau saya almh. ibu menanam dua pohon. Beliau menanamnya dari masih biji yang diperolehnya dari jeruk pecel yang dibeli di tukang sayur keliling. Sementara untuk srikaya dan jambu, beliau menangkarkannya sendiri dari biji buah yang telah ditanam di pekarangan rumah.
Seingat saya, waktu itu almh. Ibu memang punya niatan untuk menanam ketiga jenis tanaman itu di kebun milik alm. Bapak. "Kalau ditanam di pekarang rumah udah nggak mungkin, jadi ini mau ibu tanam di kebun saja," ujar almh. Ibu ketika akan memindahkan bibit-bibit tanamannya yang mulai membesar itu. Masih dengan sepeda onthel kesayangannya, beliau membawa bibit-bibit tanaman itu ke kebun, lalu menanamnya di sana.
![]() |
| Beberapa buah jeruk pecel yang tergeletak di tanah. |
Setiap pagi, sekitar jam 8 atau jam 9, almh. Ibu dengan tlatennya menyirami tanaman-tanaman kecilnya itu. Sayangnya, dulu saya belum memiliki ketertarikan untuk berkebun, jadi waktu itu saya belum bisa membantu almh. Ibu merawat tanamannya. Dan sayangnya lagi, sewaktu almh. Ibu berpulang, tiga dari empat tanamannya itu mati. Menyisakkan satu tanaman jeruk pecel yang kini sudah tumbuh meninggi dan rimbun sekali.
Oiya, seingat saya, setelah kepergian almh. Ibu, alm. Bapak masih merawat tanaman jeruk pecel peninggalan almh. ibu. "Le, jeruk pecelnya ibu sudah berbuah, ini tak bawakan beberapa buah kalau mau dibikin es atau wedang jeruk," ujar alm. Bapak kepada saya sepulang dari kebunnya dengan raut wajah yang nampak semringah. Tanpa berpikir lama dan ngepasi waktu itu cuaca terasa panas sekali, saya pun mengambil satu buah jeruk pecel yang dibawa oleh alm. Bapak untuk saya buat menjadi es jeruk.
Kini tanaman jeruk pecel peninggalan almh. Ibu makin terlihat subur, bahkan dua bulan lalu buahnya banyak sekali. Saking banyak buahnya, pernah suatu ketika saat saya sedang siram-siram di kebun, ada orang lewat dan berkata, "Mas, itu buah jeruknya boleh saya beli?"
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya saya rasa bukan saya yang harus menjawab, melainkan pemilik baru dari pohon jeruk pecel itu. Ya, pohon jeruk pecel itu bukan punya saya, bukan juga punya alm. Bapak dan almh. Ibu lagi. Sebelum alm. Bapak meninggal, beliau membagi kebun kecilnya menjadi tiga bagian yang kemudian dibagikan ke anak-anaknya, termasuk saya. Dan kebetulan pohon jeruk itu ada di tanah kebun bagian milik Kakak.
Dan tepat dua tahun lalu, Kakak telah menjual tanah bagiannya itu kepada orang lain yang beberapa hari setelahnya baru saya ketahui kalau ternyata orang yang membeli tanah dulunya teman sekolah saya yang beda kelas. "Ah, dunia sempit sekali ternyata, ya," batin saya dalam hati ketika bertemu dengan teman sekolah saya yang membeli tanah milik Kakak.
Untungnya, setiap kali pohon jeruk pecel peninggalan almh. Ibu berbuah, teman saya itu mengizinkan untuk saya atau tetangga sekitar tanahnya memetik buah jeruknya. Yah, saya masih bersyukur bisa menikmatinya, meskipun saya juga harus sadar bahwa barangkali nantinya pohon ini tak akan ada lagi. Ya, tak akan ada lagi, sebab saya tahu tanah bagian milik Kakak yang sudah dibeli oleh teman saya ini nantinya di atasnya akan didirikan rumah. Entah kapan, hanya tinggal menunggu waktunya tiba.
![]() |
| Buah jeruk dari pohon jeruk pecel yang ditanam oleh almh. Ibu. |
Maaf, saya bukan bermaksud untuk getun atau menolak bila pohon jeruk pecel itu dihilangkan, ya. Saya hanya sekadar mengingat-ingat saja perihal kenangan dari pohon ini. Saya pun sadar bahwa pohon ini bukan milik saya, jadi ya terserah pemilik barunya nanti. Mau dipertahankan atau tidak. Kalaupun tidak ya tak jadi masalah, setidaknya kenangannya sudah saya abadikan di sini. "Iya kan, Bu?"

.jpeg)
.jpeg)

0 Comments:
Posting Komentar