"Kita temenan aja, ya," ujar seorang wanita pada sebuah pesan singkat yang dikirimkannya pada saya. Pesan yang sampai saat ini masih saya ingat. Ya, saya ingat. Bukan mengingatnya sebagai kekalahan, bukan pula mengingatnya sebagai dendam. Hanya sebagai pengingat untuk saya agar lebih siap ketika niat baik tak selalu bisa terlaksana.
Walaupun pada akhirnya saya harus tetap ikhlas, pertama kali mendapati pesan itu, saya sempat merasa patah hati. Yah, wajar, saya hanya manusia biasa. Setelah sekian lama menanti dan berusaha mendekati, begitu ada kesempatan menyampaikan, justru penolakan yang saya dapatkan. Rasa-rasanya, manusia mana yang tak akan merasa patah hati? Apalagi ketika sebuah janji pernah ia katakan. "Nanti kalau aku sudah sendiri, aku kabari, ya," ujarnya pada pesan singkat yang ketika sebelumnya saya telah mengetahui bahwa hubungannya dengan kekasihnya sedang merenggang.
Sebulan setelah janji itu diutarakannya, saya masih mengingat ketika ia mengirimkan pesan yang kemudian saya baru bisa mengartikannya sebagai sebuah penepatan janji. "Aku sudah sendiri sekarang, sudah aku tepatin janjiku dulu yang mau mengabari kalau aku sudah nggak sama dia lagi, ya."
Mendapati pesan itu, saya masih memahaminya dalam-dalam dan setelahnya saya membatin dalam hati, "Barangkali ini jawaban dari do'a yang kusemogakan, akhirnya ia kembali." Saya lantas membalasnya selayaknya seorang laki-laki yang ingin mengajak seorang wanita ke jenjang hubungan yang serius. Sayangnya, seperti kalimat pertama di postingan ini, jawaban yang saya peroleh tak sesuai dengan yang saya harapkan.
Usai mendapat penolakan, saya sempat bertanya-tanya pada diri saya seperti halnya seseorang yang masih belum mengerti atas kegagalannya. Perihal apa yang kurang atau perihal apa ada tindakan yang kurang mengenakan dirinya. Lambat laun, saya mulai mengerti bahwa banyak kekurangan dalam diri saya yang membuatnya menolak saya. Terlebih lagi saya baru mengetahui perihal salah satu mimpinya ketika sudah menikah, yaitu memiliki mertua yang menyayanginya.
Ya, walaupun itu belum bisa dijadikan patokan terkait alasannya menolak saya, tapi saya mengerti bahwa itu merupakan salah satu keinginan yang ingin diwujudkannya. Apalagi menikah itu kan kalau bisa sekali seumur hidup. Barangkali ia ingin merasakan pernikahan selayaknya orang-orang pada umumnya. Dirayakan dengan hebat dan dihadiri dengan lengkap. Kalaupun misalnya ia akan benar-benar dengan saya, maka ia tak akan merasakan pernikahannya lengkap, yaitu dihadiri oleh kedua mertuanya.
Yah, mau bagaimana lagi, itu sudah jadi kehendak Yang Maha Kuasa. Saya sendiri sebagai seorang manusia biasa juga punya harapan semacam itu, terlebih lagi didampingi kedua orang tua. Tak apa-apa, memang belum rejeki saya. Setidaknya, saya pernah hidup dengan kasih sayang keduanya. Maaf, ya, Pak, Bu, saya belum bisa menjadi manusia yang pada umumnya.
Ah, iya, mengingat kembali perihal salah satu keinginan wanita yang pernah saya sukai. Beberapa minggu setelah mengetahui salah satu keinginannya itu, saya sempat berpikir apabila ia ingin memiliki mertua yang menyayanginya selayaknya menyayangi anaknya sendiri, apakah ia sendiri juga siap untuk memberi hal serupa pada mertuanya kelak? Terlebih lagi ketika mertua atau orang tuanya telah sepuh dan sedang sakit?
Maaf, bukan bermaksud menghakimi atau menyalahkannya. Saya hanya sedang ingin berkontemplasi perihal mertua dan orang tua. Mengingat mereka adalah orang yang sepatutnya kita hormati dan juga mengingat bahwa suatu saat mereka membutuhkan bantuan kita, entah sebagai anak kandung atau anak mantu.
Kita menyadari bahwa mereka terus menua, sebelum akhirnya meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Dan di waktu mereka menua itu, ya meskipun ada anak mereka yang lain yang barangkali juga bisa membantu, mau tidak mau bukankah kita harus siap membantu ketika mereka perlu bantuan sewaktu-waktu? Merawat orang tua, sepengalaman saya tak semudah merawat bayi. Perlu tenaga ekstra dan kesabaran yang luas. Itu dua hal yang sampai saat ini masih belum bisa saya miliki dengan baik.
Oleh sebab itu, saya rasa menikah bukan hanya siap menerima hal-hal baik. Menikah itu juga harus siap menerima hal-hal di luar kendali kita, termasuk salah satunya adalah merawat orang tua atau mertua kita yang sudah sepuh. Mengingat mereka yang merawat kita ketika masih kecil, maka siapa lagi kalau bukan kita yang nantinya akan merawat mereka ketika sudah tua?
Ah, maaf untuk kontemplasi saya ini. Memang bukan hal yang terlalu penting-penting sekali untuk orang lain, tapi saya rasa ini penting untuk saya pahami. Dan teruntuk kamu yang dulu pernah saya sukai, semoga segala mimpi baikmu lekas terwujud. Saya di sini sudah ikhlas menerima keputusanmu, dan saya di sini berharap kebaikan selalu menyertaimu. Terima kasih untuk cerita dan kenangannya, baik-baik di manapun berada, ya.


0 Comments:
Posting Komentar