Tampilkan postingan dengan label Cerita Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Buku. Tampilkan semua postingan

10 Juli 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Ketika pertama kali membaca judul dari novel karya Brian Khrisna ini, membuat saya teringat pada sebuah warung mie ayam yang dulunya sering saya kunjungi dengan almarhumah ibu. Warung mie ayam yang saking seringnya kami kunjungi sampai-sampai penjualnya hafal sekali dengan kami. Kalau lagi mampir beli mie ayam di situ, pasti penjualnya yang bernama pak Ali akan lebih dulu berkata pada saya dan juga almh. Ibu, “Mie ayam lima? Saus dan sambelnya dipisah, kan?”

Barangkali karena seringnya saya dan juga almh. Ibu beli mie ayam di warung yang punya nama sesuai pemiliknya itu, yaitu warung mie ayam bang ali, membuat pak Ali hafal dengan pesanan kami. Ah, kalau diingat-ingat lagi momen pertama kali kenal warung mie ayam itu rasanya jadi rindu.

Seingat saya, dulu waktu saya masih sekolah, saya meminta kepada almh. Ibu untuk dibelikan mie ayam. Entah kenapa rasanya waktu itu saya kepengen banget makan mie ayam. Mungkin juga karena sudah lama tak memakan makanan itu.

Waktu itu almh. Ibu mengajak saya mencari warung mie ayam dengan membonceng saya menggunakan sepedanya. Dikarenakan warung mie ayam yang biasanya kami beli ternyata sudah tutup permanen, alhasil almh. Ibu mengajak saya untuk kembali menelusuri jalanan dekat rumah agar dapat menjumpai warung mie ayam lain.

Pencarian itu akhirnya terhenti ketika saya dan almh. Ibu menjumpai sebuah warung kecil mie ayam yang jarak tak terlalu jauh dari rumah. Warung kecil mie ayam yang terlihat juga belum terlalu ramai. Warung itulah yang kemudian kami kenal miliknya pak Ali. Pertama kali nyoba mie ayam di sana ternyata rasanya cocok di lidah saya dan juga almh. ibu, bahkan juga di lidah anggota keluarga saya yang lain, seperti almarhum bapak, mas, dan mbak.

Dari situlah awal mula yang membuat saya langganan mie ayam di warungnya pak Ali. Semakin lama warung mie ayam yang dulunya sepi malah semakin ramai. Hal itu yang kemudian bisa membuat pak Ali memindahkan warungnya ke tempat yang lebih besar. Melihat perubahan itu, rasanya saya jadi ikut senang. Apalagi ketika mengingat waktu warungnya masih kecil dan sepi alias jaman-jaman pak Ali masih merintis.

Sayangnya semenjak saya kuliah dan harus merantau, saya jadi jarang beli mie ayam di warungnya pak Ali. Seingat saya, terakhir beli mie ayam di sana sekitar 6 tahun yang lalu ketika almh. Ibu masih ada. Entah kenapa sejak kepergian almh. Ibu, saya jadi jarang bahkan sampai lupa perihal beberapa tempat makan yang dulu sering kami kunjungi bersama.

Baru setelah kepergian alm. Bapak, saya mulai mengingat-ingat dan mengunjungi beberapa tempat itu. Beberapa tempat penuh kenangan dengan almh. Ibu sudah selesai saya kunjungi. Tapi masih ada beberapa tempat yang juga belum saya datangi. Dan salah satunya warung mie ayamnya pak Ali ini. Mungkin esok hari saya akan mengunjunginya. Selain karena ingin bernostalgia di sana, tentunya karena saya rindu dengan rasa mie ayamnya juga.

Ah, iya, saya sampai lupa dengan inti dari postingan kali ini, yaitu pertemuan saya dengan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ini. Novel yang berkisah tentang perjalanan Ale yang sedang berjuang mengobati traumanya di masa lalu. Saya senang dengan alur ceritanya yang seru. Tapi jika boleh mengkritik atau memberi saran kepada Ale, mungkin saya akan berkata, “Le, syukuri apa yang sudah kamu capai dan miliki saat ini. Kalaupun ada yang tak menyukaimu, sudah, jangan dihiraukan. Hidup ini hanya sementara. Jangan dihabiskan untuk memikirkan hal-hal yang membuat hidup kita merasa tidak bahagia.”

Eh, tapi kan Ale hanyalah tokoh fiksi. Tapi nggak apa-apa juga kan kalau sebagai pembaca kisahnya, saya memberi opini. Maaf juga ya, bukan bermaksud menggurui. Hidup saya saja juga belum terasa baik sampai saat ini. Namun, kalau menjumpai seseorang seperti Ale di dunia nyata, saya rasa tak ada salahnya bercerita atau mendengarkan ceritanya. Ah, apaan sih saya ini, malah bicara ngalor ngidul, hehe…

Btw seperti biasanya, ketertarikan saya pada novel ini bermula ketika sedang scrolling sosial media, yaitu Instagram. Dari sana, saya menjumpai sebuah video rells yang di dalamnya terdapat sebait kalimat. Sebait kalimat yang rasa-rasanya menggetarkan diri saya waktu itu. Video rellsnya ada di bawah ini, ya. Setelahnya, saya baru mengetahui kalau kalimat itu dikutip dari novel ini.


Merasa kalau buku ini menarik untuk dibaca, beberapa bulan setelah menonton video rells itu, saya memutuskan untuk check out bukunya pada salah satu akun toko buku Gramedia yang ada di aplikasi orange. Waktu itu, tentunya saya nyari yang harganya paling murah, tapi tetap ori. Kalau misal kamu tertarik buat beli novelnya juga, tautannya saya taruh di sini, ya, hehe…

Tiga hari, paket novelnya akhirnya sampai di rumah. Dan tiga hari juga saya selesai membacanya. Ah, tumben sekali bisa selesai cepat baca bukunya. Biasanya kan perlu waktu berminggu-minggu buat nyelesaiin baca satu buku, hahaha…

Yah, mungkin selain karena saya kebanyakan waktu luang, juga karena jumlah halamannya yang nggak begitu banyak, sih (hehe…). Eh, tapi saya rasa hal utama yang membuat saya bisa selesai membaca novel ini dengan cepat, yaitu karena jalan ceritanya yang membuat saya penasaran. Yaps, penasaran bagaimana kelanjutannya. Rasa-rasanya pengen segera tahu akhir ceritanya.

Bukan hanya isi ceritanya yang menarik dan bisa membuat saya penasaran, ada beberapa kutipan yang juga menarik di dalamnya. Penasaran apa saja kutipan-kutipan yang berhasil saya jumpai di novel ini? Seperti biasa, kutipan-kutipannya saya catat di bawah ini kok, hehe…
  • “Terkadang, tak percaya lagi pada kekuatan doa menjadi hal yang rasanya wajar sekali.” - hlm. 2.
  • “Jika besok aku mati, butuh waktu berapa lama bagi mereka untuk merindukanku sebelum kemudian benar-benar melupakanku?” - hlm. 9.
  • “Orang-orang bilang, bagian terberat menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan, tidak peduli sedang sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan. Sebab, hidup memang seperti itu.” - hlm. 28.
  • “Terkadang kamu justru bisa menemukan harta karun di tempat yang tidak pernah kamu sangka-sangka sebelumnya.” - hlm. 66.
  • “Di hadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa.” - hlm. 102.
  • “Kalau lo belum bisa bahagia saat sendiri, jangan limpahkan tugas itu ke orang lain, apalagi kepada orang yang lo cintai.” - hlm. 102.
  • “Berkembangbaiklah dulu sebelum memutuskan berkembang biak.” - hlm. 103.
  • “Kalau belum bisa ngidupin diri sendiri, jangan matiin masa depan perempuan.” - hlm. 104.
  • “Hidup bakal jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing.” - hlm. 128.
  • “Demi menyelamatkan kita dari jalan yang salah, terkadang Tuhan akan mematahkan kita sepatah-patahnya.” - hlm. 129.
  • “Tidak masalah jika langkahmu melambat dan tak secepat orang yang lain. Sekali-kali, kita memang perlu menikmati apa yang sedang terjadi dan terus percaya bahwa pada akhirnya semua akan membaik.” - hlm. 152.

Ok, saya rasa itu sedikit cerita saya terkait novel ini. Novel yang menurut saya juga bisa membuatmu lebih terbuka pada hal-hal sederhana dan juga rasa syukur. Sampai jumpa di postingan “bertemu dan mengutip” berikutnya, ya. Semoga sehat selalu. :)

4 Juli 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Atomic Habits

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Atomic Habits

Akhirnya tuntas juga hari ini saya membaca buku Atomic Habits karyanya James Clear. Buku yang kemudian memberi pemahaman kepada saya bahwa sebuah kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa memberi perubahan besar dalam hidup kita. Buku yang juga memberi gambaran kepada saya perihal bagaimana proses memulai kebiasaan-kebiasaan baik.

Oiya, sebelumnya saya mengenal buku ini usai menonton salah satu video di Youtubenya Raim Laode. Video yang masih saya ingat judulnya, yaitu “5 Buku Mengubah Hidupmu 2025”. Videonya saya taruh di bawah ini, ya. Barangkali ada yang mau menontonnya juga.


Selesai membaca buku ini, saya rasa tak salah bila Raim menjadikan buku ini sebagai rekomendasi pertama pada videonya itu. Dari buku yang terdiri dari 352 halaman ini, saya bisa menjumpai beberapa panduan untuk memulai kebiasaan baik. Selain itu, tentunya juga beberapa kutipan menarik yang kemudian seperti biasa saya catat pada buku kecil saya. Kutipannya saya selipkan di bawah ini juga, ya:
  • “Kita semua berhadapan dengan kemunduran, tapi dalam jangka panjang kualitas hidup kita sering kali bergantung pada kualitas kebiasaan kita.” - hlm. 7.
  • “Sukses adalah produk kebiasaan sehari-hari — bukan transformasi yyang hanya sekali seumur hidup.” - hlm. 21.
  • “Komitmen Anda terhadap proseslah yang akan menentukan kemajuan Anda.” - hlm. 33.
  • “Kalau tidak ada yang berubah, tidak ada pula yang akan berubah.” - hlm. 47.
  • “Banyak aksi yang kita lakukan tiap hari dibentuk bukan oleh dorongan dan pilihan sadar, melainkan oleh pilihan yang paling terlihat.” – hlm. 96.
  • “Perubahan kecil pada apa yang Anda lihat dapat mengantar ke perubahan besar pada apa yang Anda lakukan.” - hlm. 97.
  • “Salah satu cara paling praktis untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah mengurangi kehadiran di lingkungan dengan petunjuk-petunjuk yang menyebabkannya.” -  hlm. 109.
  • “Makin akrab kkita dengan seseorang, makin mungkin kita meniru beberapa kebiasaan mereka.” - hlm. 133.
  • “Hidup terasa reaktif, padahal sesungguhnya hidup itu prediktif.” - hlm. 147.
  • “Cukup dengan mengubah satu kata, Anda mengubah cara Anda memandang peristiwa-peristiwa yang sama.” - hlm. 150.
  • “Bila ingin menguasai kebiasaan, kuncinya adalah mulai dengan perulangan, bukan membayangkan kesempurnaan.” - hlm. 161.
  • “Dunia usaha adalah pencarian yang tak pernah berakhir untuk memberikan hasil yang sama dengan cara yang lebih mudah.” - hlm. 174.
  • “Makin besar hambatan, makin kecil kemungkinan kegiatan menjadi kebiasaan.” - hlm. 177.
  • “Jadikan tahap awal lebih mudah maka berikutnya akan berjalan dengan sendirinya.” - hlm. 185.
  • “Satu-satunya cara untuk menjadi hebat adalah terus bersemangat ketika mengerjakan hal yang sama berulang-ulang. Anda harus jatuh cinta ppada kebosanan.” - hlm. 270.
  • “Mempertahankan upaya adalah hal terpenting untuk proyek apa pun.” - hlm. 279.
  • “Hidup Anda berubah berkat satu perubahan kecil.” - hlm. 287.

Saya meminang buku ini dari sebuah toko bernama “Makarya” yang berada di daerah Matraman, Jakarta Timur. Tentunya, saya tidak langsung membelinya di sana. Seperti buku-buku yang pernah saya ceritakan sebelumnya di blog ini, saya meminangnya secara online melalui aplikasi orange. Tautan bukunya saya taruh di sini, ya. Kali aja ada yang mau beli juga, hehe…

Membaca buku ini, saya menyadari kalau isinya memang menarik. Ya, meskipun sesekali saya harus mengulang membaca beberapa bagian yang belum saya mengerti. Dan selesai membaca buku ini, saya jadi semakin termotivasi untuk memulai kebiasaan-kebiasaan yang bisa menjadikan saya lebih baik lagi.

6 Juni 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Filosofi Teras

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Filosofi Teras

Filosofi Teras karya Henry Manampiring, sebuah buku yang saya beli dua tahun lalu. Buku yang sayangnya saya lupa awal mula bisa bertemu dengannya. Seingat saya waktu membeli buku ini, saya sedang senang-senangnya menonton dan membaca perihal gaya hidup minimalis maupun slow living. Ya, meskipun sampai sekarang saya belum bisa menerapkan dua gaya hidup itu dengan baik, hehe…

Dua tahun lalu saya membaca buku yang tentunya dengan harapan untuk bisa menjadi lebih baik. Mengingat dulunya saya sering galau, sampai sekarang sesekali masih sih (hehe…), melalui buku ini saya ingin mengatasi hal tersebut. Yang saya ketahui bahwa buku ini membawa dasar filsafat Stoa. yaps, filsafat Stoa yang membantu seseorang dalam mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan.

Buku ini membawa pemahaman baru bagi saya. Selain perihal filsafat Stoa atau Stoisisme, juga tentang hal-hal di luar kendali maupun di bawah kendali kita. Buku ini juga mengajak saya untuk bisa lebih menerima hal-hal yang tidak di bawah kendali saya.

Sayangnya, kegiatan saya membaca buku ini sempat terhenti dua tahun lalu. Terakhir kali saya membacanya sampai di halaman 69. Kalau ada yang bertanya perihal penyebabnya apakah karena isinya yang membosankan? Saya jawab, tidak. Justru isinya sangat menarik.

Seingat saya, dulu ketika mulai membaca buku ini, saya masih bekerja dengan sistem WFH dan WFO. Satu bulan WFH, lalu ganti satu bulan WFO. Ketika WFH, saya memanfaatkannya untuk sekalian pulang ke Ngawi, sebelum nantinya harus kembali lagi WFO di kantor yan ada di Semarang. Sayangnya, waktu harus kembali kerja secara WFO, saya lupa tidak membawa buku ini ke kost.

Pada akhirnya buku ini hanya tersimpan di rak buku yang ada di rumah alm. Bapak. Dan semakin lama tersimpannya hingga membuat saya lupa kalau belum selesai membacanya ketika saya mendapat berita yang kurang mengenakkan dari kantor, yaitu kabar mengenai kontrak kerja yang tidak diperpanjang. Mendapati kabar itu, saya sampai lupa pada beberapa hal, termasuk buku ini dan janji untuk meminjamkannya ke seorang teman kantor yang dulu pernah meminjami saya sebuah novel berjudul Resign. Teruntuk teman kantorku dulu yang mau meminjam buku ini, maaf ya belum sempat meminjamkannya. :’)

Saya baru menjumpai buku ini lagi sekitar satu bulan yang lalu sewaktu sedang bersih-bersih rumah alm. Bapak. Menjumpainya masih tersimpan rapi di rak buku, tapi dengan kondisi yang tak lagi sama seperti dulu lagi. Di beberapa halamannya sudah dihiasi bercak kuning, sedangkan di ujung-ujung sampulnya sudah nampak lipatan kecil. Ah, barangkali ini karena saking lamanya tidak saya rawat.

Tak ingin penyesalan lama terulang kembali, saya memutuskan untuk membacanya lagi. Dan sore kemarin, akhirnya saya selesai membacanya, alhamdulillah. “Harusnya dari dulu saya selesaikan membaca buku ini,” batin saya dalam hati setelah selesai membacanya kemarin. Jika saya membaca buku ini dari dulu, mungkin saya tidak akan merasa khawatir berlebihan, mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi, dan menjalani hidup dengan lebih percaya diri.

Dari buku ini juga, saya bisa menjumpai beberapa kutipan menarik yang telah saya catat pada buku kecil saya. Kalau penasaran apa saja kutipannya, sudah saya tulis di bawah ini, ya.
  • “Bukan stres yang membunuh kita, tetapi reaksi kita terhadapnya.” - hlm. 7.
  • “Dengan malas bekerja, kita sudah mengingkari Alam dan nature kita sebagai manusia.” - hlm. 71.
  • “Kekayaan, keahlian, kecantikan, kekuatan (fisik) tidak serta merta membuat seseorang ‘lebih baik dari kita’.” - hlm. 73.
  • “Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tetapi pertimbangan/pikiran/persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut.” - hlm. 79.
  • “Memberikan diri kita kesempatan untuk berpikir rasional hampir selalu lebih baik dibandingkan dengan terus-menerus membiarkannya ditarik ke sana kemari oleh emosi.” - hlm. 90.
  • “Jagalah senantiasa persepsimu, karena ia bukan hal yang sepele, tetapi merupakan kehormatan, kepercayaan, ketekunan, kedamaian, kebebasan dari kesakitan dan ketakutan—dengan kata lain, [persepsimu adalah] kemerdekaanmu.” - hlm. 91.
  • “Pada saatnya, kamu akan melupakan segalanya. Dan akan ada saatnya semua orang melupakanmu. Selalu renungkan bahwa akhirnya kamu tidak akan menjadi siapa-siapa, dan lenyap dari bumi.” - hlm. 95.
  • “Sering kali, realitas yang terjadi jauh sekali dari yang kita khawatirkan, dan kita sudah menghabiskan begitu banyak energi untuk menyiksa diri.” - hlm. 110.
  • “Sesungguhnya, yang miskin bukanlah dia yang memiliki harta terlalu sedikit, tetapi dia yang masih menginginkan lebih.” - hlm. 120.
  • “Kamu tidak bisa dihina orang lain, kecuali kamu sendiri yang pertama-tama menghina dirimu sendiri.” - hlm. 139.
  • “Seberapa pun menyebalkannya perilaku atau perkataan orang lain, belajar memahami intent (niat) dan perspektif mereka bisa membantu kita memberi respons yang lebih baik.” - hlm. 144.
  • “Sebelum kita emosi merasa ‘kebenaran’ kita dilanggar, cek terlebih dahulu apakah mungkin kita yang salah.” - hlm. 150.
  • “(Kejujuran) harus terdengar di suaramu, tampak di matamu, bagaikan kekasih yang menatap wajahmu dan percaya seluruh kisahmu dengan sekilas pandang.” - hlm. 158.
  • “Uang dan harta benda selalu bisa dicari, tetapi waktu adalah harta yang tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita, terus mendekatkan diri kita kepada kematian.” - hlm. 167.
  • “Justru ketika keadaan kita sedang baik, maka jiwa kita harus diperkuat untuk menghadapi kesulitan yang lebih besar.” - hlm. 185.
  • “Kegagalan tidak dilihat sebagai indikator seseorang terlahir ‘bodoh’, tetapi sebagai hambatan sementara yang bisa dilampaui dengan usaha.” - hlm. 198.
  • “Dukacita yang dicoba ditutup-tutupi atau dialihkan perhatiannya akan terus kembali, dengan kekuatan yang lebih besar. Namun, dukacita yang telah ditaklukkan nalar akan tenang selamanya.” - hlm. 207.
  • “Yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” - hlm. 222.
  • “Kematian bukan sesuatu yang menakutkan kita, tetapi justru memotivasi kita untuk memanfaatkan hidup sepenuh-penuhnya.” - hlm. 245.

Kira-kira begitulah cerita singkat perihal pertemuan saya dengan buku ini. Kalau kamu penasaran dengan isi bukunya atau ingin mengembangkan diri melalui buku ini, kamu bisa membacanya melalui aplikasi iPusnas. Tapi kalau di iPusnas, kamu harus siap-siap buat nunggu antriannya dulu.

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Filosofi Teras

Kalau nggak mau antri dan ingin segera membaca bukunya dengan bebas, barangkali kamu bisa meminangnya lebih dulu. Bisa meminangnya di toko buku terdekat atau melalui toko online yang salah satu tautannya ada di sini. Semoga buku ini bisa bermanfaat juga buat kamu, ya! Selamat membaca! 😁

19 Mei 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Jika Lukamu Sedalam Laut Ikhlasmu Harus Seluas Langit

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Buku Jika Lukamu Sedalam Laut Ikhlasmu Harus Seluas Langit

Apabila kamu sedang patah hati, terlebih lagi dikarenakan oleh cintamu yang telah memilih pergi, saya rasa buku ini bisa menjadi salah satu pereda untukmu melaluinya. Sesuai judulnya, buku ini mengajarkan pembacanya untuk menjadi pribadi yang lebih ikhlas. Ikhlas atas kepergian dan kehilangan yang tak diharapkan. Seolah-olah melalui buku ini, penulis dengan nama pena patahan.ranting ingin mengingatkan juga kepada pembaca bahwa sebesar apapun luka atau dukamu atas kepergian, jangan sampai hal itu membuatmu hilang arah.

Ngomong-ngomong soal buku ini, saya menjumpainya di tahun lalu. Di saat saya sedang merasa patah sepatah-patahnya atas kepergian seseorang. Teruntuk kamu yang sering berkunjung ke blog ini pasti tahu orang yang saya maksud.

Pertemuan saya dengan buku ini berawal dari ketertarikan saya dengan judulnya. Sekilas membaca judulnya, seakan-akan mengingatkan sekaligus mengajak saya untuk bisa lebih menerima kehilangan. Penasaran dengan isi bukunya yang saya harap bisa meredakan kegelisahan saya atas kehilangan, saya pun membelinya di tahun kemarin.

Saya baru selesai membacanya dua minggu yang lalu. Sayangnya ketika membacanya, saya baru menyadari bahwa isinya lebih banyak membahas perihal kehilangan cinta dari seseorang yang memilih pergi meninggalkan. Saya kira isinya lebih kepada kehilangan secara general, tapi ternyata perkiraan saya salah. Ah, tapi tak apa-apa. Saya tetap bisa menikmatinya dengan baik.

Saking menikmati isinya, saya pun bisa menjumpai beberapa kutipan menarik. Beberapa kutipan menarik itu saya share di bawah ini, ya:
  • “Karena sembuh hanya mampu diraih oleh orang-orang yang berani beranjak dari rasa sakitnya.” - hlm. VIII.
  • “Sebaik apa pun lengan menjaga, yang tak diizinkan tinggal pasti akan tanggal.” - hlm. 2.
  • “Kisah yang telah lalu itu mengajarkanku arti tabah dalam menunggu, arti sabar dalam mencintai, serta arti ikhlas dalam melepas pergi.” - hlm. 6.
  • “Semuanya bisa sewaktu-waktu menghilang, sekalipun sudah dijaga dengan segenap rasa sayang.” - hlm. 27.
  • “Aku tahu, perjalanan menuju ikhlas itu berat, tapi aku akan tetap menempuhnya.” - hlm. 60.
  • “Sadarilah, bahwa hatimu pun berharga untuk kamu jaga.” - hlm. 85.
  • “Apa pun yang berurusan dengan manusia, jangan pernah meletakkan harapan setinggi-tingginya.” - hlm. 95.
  • “Waktumu terlalu berharga untuk mengulang episode yang sama.” - hlm. 104.
  • “Beberapa kepergian bukanlah akhir dari segalanya, justru, terkadang itu adalah awal sebuah bahagia.” - hlm. 121.
  • “Hidup tak serta-merta berhenti hanya karena hilangnya satu orang.” - hlm. 125.
  • “Seseorang yang paling pantas kamu sayangi begitu dalam, itu adalah dirimu sendiri.” - hlm. 131.
  • “Membalas sakit dengan sakit, tidak akan membuatmu sembuh.” - hlm. 136.
  • “Jika lukamu sedalam laut, ikhlasmu harus seluas langit.” - hlm. 147.

Nah, saya kira itu sedikit cerita dan beberapa kutipan perihal buku ini. Meskipun buku ini tidak membahas kehilangan yang saya harapkan, tapi melalui buku ini juga saya bisa memaknai kehilangan dengan lebih baik. Saya rasa juga setiap perasaan kehilangan, baik itu kehilangan anggota keluarga, pasangan, hewan peliharaan, atau barang kesayangan, semuanya memiliki satu kesamaan. Ya, satu kesamaan, yaitu sama-sama didasari oleh rasa cinta.

Oiya, barangkali kalau kamu penasaran dengan isi bukunya, kamu bisa membaca review atau resensinya dulu, ya. Sudah banyak yang menulisnya di internet kok. Tapi, kalau kamu ingin membacanya langsung, bisa juga meminangnya dulu di sini. Semoga bermanfaat, ya.

27 April 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Pukul Setengah Lima

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Pukul Setengah Lima

Lagi-lagi oleh seorang bookstagram, saya kepincut pada sebuah novel. Novel sederhana yang pada salah satu halamannya memuat kalimat yang mengingatkan saya pada kebiasaan yang sering dilakukan oleh almarhumah Ibu. “... kulihat Ibu menungguku di depan pagar”, sepotong kalimat dari novel itu yang mengingatkan saya pada kebiasaan almh. Ibu yang selalu dengan sabar menunggu. Entah menunggu almarhum bapak, mas, mbak, atau saya yang pulang ke rumah larut malam.

Padahal setiap kali saya atau anggota keluarga saya yang lain akan pergi, kami selalu menitipkan pesan kepada beliau, “Bu, nanti saya pulangnya malam.” Entah kenapa almh. Ibu akan selalu menunggu kami pulang, meskipun jam sudah menunjukkan waktu malam. Beliau akan dengan sabar menunggu di ruang keluarga, ditemani satu-satunya televisi yang menjadi penghiburnya.

Selain ingin membukakan pintu untuk kami, barangkali almh. Ibu juga ingin memastikan bahwa kami pulang dalam keadaan baik. Ya, barangkali begitu. Tentunya beliau memiliki rasa khawatir apabila kami pulang dalam keadaan yang tidak baik. Ah, jadi rindu momen-momen itu.

Oiya, saya lupa belum mengenalkan novelnya. Novel yang baru selesai saya baca tiga hari yang lalu. Novel ini berjudul Pukul Setengah Lima. Sebuah novel yang ditulis oleh Tsana dengan nama pena Rintik Sedu.

Seingat saya, dulu novel ini saya beli secara online setelah novel Laut Bercerita. Itu artinya novel ini sudah ada di rumah beberapa bulan yang lalu. Namun, sekitar dua minggu yang lalu, novel ini baru sempat saya baca, hehe…

Sebelum membaca novel ini secara utuh, dulu saya mengira kisahnya hanya perihal hubungan anak dan juga ibu. Tapi ternyata kisahnya lebih dari itu. Saya dibuat gemas oleh tingkah karakter Alina yang selalu merasa bahwa hidupnya tidak menarik. Saya dibuat heran oleh Marni yang merasa nyaman dalam kepura-puraan yang ia lakukan. Saya juga dibuat penasaran dengan karakter Danu yang sampai saat ini masih menjadi sosok misterius. Dan saya rasa novel ini akan cocok untuk kamu yang menginginkan akhir cerita yang tak biasa.

Selama membaca novel ini, saya tak menemui kesulitan untuk memahami jalan ceritanya. Pada novel ini juga, saya menjumpai sekaligus mencatat beberapa kutipan yang menurut saya menarik untuk disimak. Ada sekitar empat belas kutipan yang saya catat, dan berikut ini kutipannya:
  • “Luka adalah goresan yang pertama, yang setelahnya sudah bukan lagi luka namanya.” - hlm. 11.
  • “Saling mengerti tidak sesederhana yang diucapkan orang-orang.” - hlm. 19.
  • “Kenangan indah memang membuat yang sudah berlalu seperti tidak pernah selesai.” - hlm. 26.
  • “Manusia adalah kepedihan yang memikat; kehadiran yang sementara, kepergian yang kekal.” - hlm. 39.
  • “Rencana itu seperti nyawa, Al, tiap manusia harus punya.” - hlm. 72.
  • “Kebohongan adalah hiburan tanpa tujuan.” - hlm. 81.
  • “Yah, berpikir berlebihan memang bisa membunuh perlahan.” – hlm. 95.
  • “Yah, kapasitas manusia memang nggak ada ukurannya, ada yang bisa kuat banget, ada yang sangat lemah. Kita memilih apa yang kita sanggupi aja, kan?” - hlm. 132-133.
  • “Sembuh itu bukan tanggung jawab kita, Marni. Kita hanya perlu menoleransi rasa sakit. Kita hanya perlu beranjak sedikit lebih jauh.” - hlm. 133.
  • “Espreso itu tentang menghargai waktu, menikmati detik, dan memaksimalkan rasa.” - hlm. 143.
  • “Seburuk-buruknya perjalanan adalah mengunjungi masa lalu.” - hlm. 145.
  • “Kehidupan itu bukan rumah, melainkan sebuah tempat persinggahan. Tempat persinggahan yang lestari.” - hlm. 170.
  • “Kalau kamu bilang aku butuh waktu, mungkin kamu benar. Tapi kita sama-sama nggak tahu berapa lama. Dan, kamu nggak mungkin selamanya nungguin aku sampai siap.” - hlm. 179.
  • “Seburuk apa pun kenyataan, kalau memang kita udah terbiasa, ya kita akan selalu memandangnya sama.” - hlm. 191.
Saya rasa itulah beberapa kutipan yang bisa saya temukan dan cerita singkat terkait pertemuan saya dengan novel ini. Apabila kamu merasa penasaran dengan isi novel ini, barangkali kamu bisa membaca terlebih dahulu resensinya yang sudah banyak terbit di dunia maya. Tapi jika menurutmu akan lebih afdol dan puas untuk membacanya novelnya langsung, maka kamu bisa membeli novelnya dulu di sini atau meminjamnya di perpustakaan. Semoga bermanfaat, ya! :)

12 April 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Laut Bercerita

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Laut Bercerita

Bulan kemarin, sebelum saya mulai membaca novel Bandara, Stasiun, dan Tahun-Tahun Setelahnya, saya masih membaca sebuah novel yang berjudul Laut Bercerita. Novel karya penulis Leila S. Chudori, yang saya rasa juga sangat menarik untuk dibaca.

Tokoh dan ceritanya memang fiksi, tapi latar ceritanya berdasar peristiwa kelam tahun 90-an yang pernah terjadi di negeri ini. Semoga peristiwa itu tak terulang kembali (aamin). Teruntuk kamu yang suka dengan novel bertemakan sejarah, saya rasa novel ini cocok sekali untuk kamu nikmati.

Btw, pertemuan saya dengan novel ini bermula ketika seorang kawan selesai membaca postingan saya yang berjudul NgeShare - Dibuat Menangis oleh Sebuah Novel. Setelahnya kawan saya berkata, “Coba kamu baca novelnya Leila S. Chudori yang judulnya Laut Bercerita. Pasti bikin kamu nangis juga.”

Usai mendengar kata-kata kawan saya tadi, saya jadi penasaran dengan novel tersebut. “Apa benar novel itu bisa membuat saya menangis? Memangnya isi ceritanya seperti apa, sih?” batin saya dalam hati.

Tak mau larut dalam rasa penasaran, saya menyempatkan terlebih dahulu untuk membaca resensi novelnya. Tak sulit untuk menemukan resensinya yang telah banyak bertebaran di dunia maya. “Wah, novelnya pasti keren, nih”, pikir saya setelah menjumpai banyaknya resensi maupun sinopsis terkait novel ini di internet.

Setelah selesai membaca salah satu resensinya, saya memutuskan untuk meminang novel tersebut. Tentunya melalui toko onlen karena di daerah saya tinggal belum ada toko buku yang menjual novel itu. Sekitar tiga hari setelah cek out, novel itu tiba dengan baik di rumah. Namun, setelah sampai di rumah, seperti halnya buku-buku yang pernah saya pesan sebelumnya, novel itu tidak langsung saya baca. Sejenak ia tersimpan di pojok lemari bersama beberapa buku yang telah masuk ke daftar tbr (to be read) saya, hehe…

Baru bulan kemarin akhirnya saya membacanya. Ketika membaca novel itu, apakah saya menangis? Sayangnya hal itu tidak terjadi. Meskipun begitu, saya tetap merasa sedih waktu membacanya. Mengenai perjuangan Laut bersama kawan-kawannya. Perihal keluarga, kekasih, dan kawan-kawan yang merindukannya. Dan tentang bagaimana nasib Laut beserta 13 kawan perjuangannya yang telah hilang.

Ah, iya, saat membaca novel ini saya begitu menikmati alur ceritanya. Saking menikmatinya, sampai-sampai saya melewatkan beberapa kutipan menarik yang tersimpan di novel ini. Merasa sayang kalau kutipan-kutipan tersebut terlewat tanpa dicatat, saya akhirnya membuka kembali novel itu hari ini. Dan seharian penuh, saya mencoba menemukan lagi kutipan-kutipan yang saya rasa menarik.

Ada sebelas kutipan yang saya catat. Memang tak begitu banyak. Tapi saya rasa sebelas kutipan ini yang begitu bermakna bagi saya. Penasaran sebelas kutipannya itu apa saja? Di bawah ini ya kutipan-kutipannya:
  • “Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan.” - hlm. 30.
  • “Kau tak akan bisa memperolehnya dengan bersembunyi. Kau harus menghampirinya dan menggenggam tangannya tanpa pernah melepasnya lagi.” - hlm. 43.
  • “Kebenaran ada di tangan mereka yang memihak rakyat.” - hlm. 171.
  • “Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan, Laut.” - hlm. 182.
  • “Carilah kata-kata yang tidak terungkap di dalam cerita pendekku.” - hlm. 226.
  • “Peristiwa yang tak nyaman atau menyakitkan tidak perlu dihapus, tetapi harus diatasi.” - hlm. 313.
  • “Dari alam mana pun kau berada, berilah tanda, kode morse atau pesan apa pun agar aku tahu kau tenang dan bahagia.” - hlm. 352.
  • “Jika jawaban yang kalian cari tak kunjung datang, jangan menganggap bahwa hidup adalah serangkaian kekalahan.” - hlm. 366.
  • “Jangan terjebak pada kenangan yang membuat kalian semua tak bisa meneruskan hidup.” - hlm. 366.
  • “Kita harus selalu mencoba berbuat sesuatu, menyalakan sesuatu, sekecil apa pun dalam kegelapan di negeri ini.” - hlm. 35.
  • “Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut.” hlm. 183.

Saya rasa itulah kutipan-kutipan yang menarik dari novel Laut Bercerita. Dan sekiranya itu juga cerita singkat perihal pertemuan saya dengan novel tersebut. Oiya, hampir lupa, kalau kamu tertarik ingin meminang novel ini juga, bisa melalui tautan ini, ya. Terima kasih sudah berkenan membaca cerita saya hari ini. Jumpa lagi di cerita pertemuan dan mengutip selanjutnya.

10 April 2025

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Bandara, Stasiun, dan Tahun-Tahun Setelahnya

NgeShare - Bertemu dan Mengutip: Novel Bandara, Stasiun, dan Tahun-Tahun Setelahnya

Bandara, Stasiun, dan Tahun-Tahun Setelahnya, sebuah novel yang baru saja menemani saya dalam proses melalui duka. Novel yang setelah selesai membacanya tadi siang yang seakan-akan ingin mengingatkan saya perihal pertemuan dan juga perpisahan. Novel yang saya rasa juga sangat nyaman untuk diselesaikan di waktu-waktu merasa kesepian.

Seperti halnya beberapa buku dan juga novel yang telah saya baca sebelumnya, novel ini menarik rasa penasaran saya ketika menjumpai ulasannya di sosial media. Ah, iya, lagi-lagi menjumpainya di sana. Di ulasan singkat itu menampilkan potongan kutipan yang ada di dalam novelnya.

“Ibu dan Bapak sudah semakin tua, Nak, kalau kami meninggal sebelum kamu menikah gimana?” Sebuah kutipan dari novel tersebut yang kemudian mengingatkan saya pada pesan yang pernah diucap oleh almarhum Bapak. “Le, semoga lekas ketemu jodohnya, ya. Mumpung bapak juga masih sehat”, ujar alm. Bapak waktu itu yang saya ingat beliau mengatakannya selesai saya sungkem padanya di lebaran dua tahun yang lalu.

Berangkat dari kutipan itu, akhirnya membangkitkan keinginan saya untuk membacanya. Keinginan itu akhirnya bisa terlaksana selesai saya men-cek out novelnya dari salah satu toko online. Oiya, sebenarnya novel ini sudah lama tibanya. Tapi baru sempat saya baca dua minggu yang lalu. Maklum waktu itu masih ada buku lain yang sedang saya baca, hehe…

Saya sangat menikmati ketika membaca kisah yang tersaji pada novel kolaborasi dari penulis Erina Delyere dan Skysphire ini. Menikmati kisah tentang Tama yang mengabadikan cintanya yang telah pergi. Tentang Arumi yang sedang berjuang menjalani hari-harinya yang terasa sepi. Tentang Hagi yang menyimpan ketulusan cintanya sendiri. Dan tentang Ranna yang berjuang untuk menemukan kebahagiaannya lagi.

Saking menikmatinya, saya sampai menyempatkan diri untuk menuliskan beberapa kutipan dari novel tersebut yang menurut saya menarik. Ya, menulis kutipan. Kegiatan baru yang saya rasa membuat kegiatan membaca semakin seru. “Mubazir rasanya kalau tidak mencatat kutipan-kutipannya”, ujar saya dalam hati ketika akan memulai kegiatan menulis kutipan waktu itu.

Meskipun terbilang cukup lama, dalam waktu dua minggu akhirnya saya rampung membaca novel ini. Dari novel itu, saya menjumpai beberapa kutipan menarik yang saya rasa bisa diteruskan menjadi hal baik. Berikut ini kutipan-kutipannya:
  • “Ada yang menetap untuk menjalani takdir bersama, ada pula yang singgah memberi kenangan sementara waktu saja.” – hlm. 18.
  • “Kebahagiaan tidak bisa diukur sesuai fase kehidupan yang sama.” – hlm. 24.
  • “Jadi, terus hidup, Rum, meskipun tujuannya untuk hal-hal kecil.” – hlm. 38.
  • “Hidup tetap berjalan meskipun rasanya ingin mati, malam akan berganti menjadi pagi dengan sendirinya, sebesar apa pun kita ingin menghentikan waktu.” – hlm. 206.
  • “Pilihannya perjuangkan atau lepaskan. Jangan hidup di tengah keabu-abuan seperti ini.” – hlm. 216
  • “Tuhan tidak mengambil sesuatu darimu tanpa sebab dan Tuhan juga tidak menghadirkan seseorang di hadapanmu tanpa sebab.” – hlm. 217.
  • “Mereka, yang pergi, pasti ingin kita kembali bahagia dan melanjutkan hidup tanpa mereka.” – hlm. 223.

Saya rasa itulah kutipan-kutipan menariknya dan cerita singkat saya ketika bertemu dengan novel ini. Maaf, ya, kalau postingan ini tidak memuat resensi atau ulasan panjang untuk novelnya. Seperti yang pernah saya tuliskan di postingan NgeShare – Melalui Duka dengan Membaca Buku, saya tak mahir dalam membuat dua karya itu. Selain itu, saya rasa sudah banyak artikel resensi atau review yang menarik terkait novel ini.

Jadi, di sini saya hanya sekadar cerita sedikit pengalaman saya bersama novel ini (hehe…). Btw, kalau kamu tertarik juga untuk membaca novel ini, novelnya bisa kamu pinang di sini. Semoga bermanfaat dan juga bisa menghibur kamu, ya. 😊