Along with the Gods: The Two Worlds, merupakan sebuah film korea bergenre aksi fantasi yang menceritakan perjalanan tiga wali kematian bernama Hae Won-maek (Ju Ji-hoon), Lee Deok-choon (Kim Hyang-gi) dan Gang-rim (Ha Jung-woo) yang mengawal seorang arwah bernama Kim Ja-hong (Cha Tae-hyun) menuju ke alam baka. Dalam perjalanan tersebut, mereka melalui tujuh pengadilan alam baka yang akan menentukan takdir akhir dari arwah Kim Ja-hong. Nah, di sini tiga wali tersebut selain bertugas untuk mengawal Kim Ja-hong, juga bertugas untuk menjadi pembela/ pengacaranya dalam menghadapi ketujuh pengadilan tersebut. Dihiasi dengan beberapa laga pertarungan yang seru dan juga momen-momen mengharukan, menambah kemenarikan film dengan durasi 2 jam lebih ini untuk ditonton.
Ngomong-ngomong soal film yang sudah dirilis sejak tahun 2017 ini, tiga hari yang lalu saya baru saja menyempatkan waktu untuk menontonnya. Berawal dari ketidaksengajaan munculnya thread terkait film tersebut di beranda twitter saya, dan kebetulan saya bingun mau ngapain. Alhasil, saya pun penasaran dengan seperti apa film tersebut, apakah memang benar sebagus yang diceritakan pada netizen di thread tersebut. Pada akhirnya saya pun mencoba menontonnya. Dan benar saja, memang film ini bagus untuk ditonton, apalagi pas scene ketika ibu dan adik Kim Ja-hong yang bernama Su-hong sedang mengobrol di alam mimpi. Jujur scene ini hampir membuat saya terisak. :’)
Oke, lanjut lagi. Dalam sebuah film pastinya tidak hanya menyuguhkan cerita yang menarik, tetapi juga quote atau kutipan kalimat bijak yang dapat dijadikan sebagai pelajaran maupun motivasi untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Begitu pula dengan film ini, dan berikut ini adalah beberapa kutipan yang saya ambil dalam film tersebut.
Bantulah yang terluka lebih dahulu.
Kejahatan tidak akan hilang bahkan jika kau diam saja. Semakin lama kau menyembunyikan kejahatanmu, hukuman yang lebih keras akan didapat di neraka ini.
Jangan sia-siakan air matamu untuk masa lalu.
Semua manusia hidup dengan dosa. Hanya sedikit yang punya keberanian untuk memohon ampun. Dan hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar dimaafkan.
Nah, begitu sekiranya sedikit spoiler dan kutipan kalimat bijak untuk film Along with the Gods: The Two Worlds. Barangkali ada di antara kawan-kawan yang penasaran dengan film tersebut. Monggo bisa segera ditonton ya, mumpung pas malam minggu juga ini, hehe...
Whisper of The Heart (耳をすませば), sebuah film animasi bergenre romantis dari Jepang yang dibuat oleh “Studio Ghibli”. Film yang pertama kali dirilis pada tahun 1995 ini, menceritakan tentang kehidupan seorang gadis SMP bernama “Shizuku Tsukishima”. Pada suatu ketika, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama “Seiji Amasawa” yang tak lain adalah teman sekolahnya. Pertemuan keduanya yang disebabkan oleh kegemaran Shizuku, yaitu membaca buku membuat mereka pada akhirnya saling jatuh cinta dan memotivasi keduanya untuk saling mendukung dalam meraih cita-citanya. Ya, cita-citanya, Seiji yang bercita-cita ingin menjadi seorang pengrajin biola, sedangkan Shizuku yang bercita-cita ingin menulis novel.
Apakah kamu sudah pernah menonton film anime yang berjudul I Want to Eat Your Pancreas (君の膵臓をたべたい/ Kimi no Suizō o Tabetai/ Let Me Eat Your Pancreas)? Kalau belum, mending kamu tonton dulu film itu, karena eh karena artikel saya kali ini memuat spoiler dari film tersebut lho. So, daripada nanti kesannya malah bikin nggak seru, alangkah baiknya kamu nonton dulu filmnya, ya. Tapi kalau kamu tetep pengen membaca artikel ini, ya, saya tidak melarang, saya justru akan merasa sangat senang (hehehe...).
Bila kini kau tengah dalam kerinduan kepada mereka yang ingin kau jumpa di kampung halaman, maka akuilah. Kerinduan memang sebuah hal yang tak dapat terhindarkan. Jika kau terus menahan rasamu itu, mungkin kau akan selalu merasa tak nyaman. Bila kau ingin melegakan rasa rindumu, maka jawabku adalah "pulanglah". Sebab, pulang adalah jawaban yang tepat atas kerinduan yang pantas kau rasakan. Mungkin dengan dirimu yang sekarang di perantauan, pulang tak selalu dapat kau laksanakan, tetapi percayalah jika suatu saat nanti kau pasti akan dapat menunaikannya. Berjumpa dengan yang kau rindu, berjumpa dengan yang telah lama tak bertemu. Kau dapat sampaikan segala rindu yang telah kau pendam sekian lama, kau pun dapat menyapa orang-orang yang ingin kau jumpa. Merasakan kembali kebersamaan yang mungkin telah lama pula tak kau rasakan. Bersyukurlah bila kau masih dapat menunaikan kepulanganmu karena pulang juga merupakan sebuah jalan untuk kau menuju kebersamaan yang entah sampai kapan semua itu dapat kau rasakan...
Bila kau ingin menetapkan hati, maka tetapkanlah sebelum semuanya berakhir sudah. Perjuangkanlah ketetapanmu kepada pilihanmu agar dirinya menyadarinya. Berjuanglah sewajarnya, bukan berlebihan yang justru akan memperburuk keadaanmu. Tetapi bila hati atau pilihan yang telah engkau tetapkan tak kunjung menyadarinya, maka ikhlaskanlah. Sebab perkara hati tak dapat dipaksa dan juga ketetapan yang dirasa oleh satu pihak belum pasti akan dirasakan sama dengan pilihannya.
Pagi ini aku menemukannya tersangkut di tiang antena televisi kos. Sebuah layangan yang telah putus yang entah darimana ia berasal dan entah siapa gerangan pemiliknya. Tapi, satu hal yang pasti kuketahui dari layangan ini bahwa putusnya ia sangat disesalkan oleh pemiliknya. Sembari kuamati layangan ini, nostalgiaku mulai bereaksi, mengingatkanku kepada masa kecil di mana saat musimnya angin besar datang, banyak layang-layang akan mulai berterbangan. Melayang tinggi di udara menyenangkan para penerbang muda yang gembira. Memainkannya mulai dari siang hingga petang bersama kawan-kawan. Sama seperti tulisan yang tertera pada layangan ini, "Radja Udara", kami (aku dan teman-teman) menganggapnya sebagai raja udara yang kian tingginya mengangkasa di udara, kian kami membanggakannya, bilamana layangan lain ada di sampingnya, tetapi milik pribadi yang dianggap lebih dapat membuat hati tak bosan melihatnya. Di sela-sela memainkannya, sempat saat itu kami saling beradu, beradu ketinggian, hingga beradu kuatnya benang layangan yang akhirnya membuat salah satu layangan putus seperti layangan yang pagi ini kutemukan. Putusnya layangan, itulah moment yang paling mengasyikan. Kami mengejarnya, beradu paling cepat untuk mendapatkannya, tak kenal lelah, tak kenal menyerah, semacam sedang dalam medan perang. Siapa yang cepat, dia yang dapat dan otomatis dialah pemenangnya. Sungguh hal itu menggembirakan sekali untuk kami para bocah yang belum tahu menahu akan realita kehidupan yang sebenarnya. Setidaknya itulah keseruan bermain layangan yang sampai saat ini masih kuingat sembari mengamati layangan ini. Ah, andai waktu itu berjalan lebih lama lagi, tapi...biarlah memang waktu sewajarnya berjalan seperti itu, "kecil memanja, besar berupaya", biarkanlah yang lalu menjadi kenangan, kenangan yang akan menjadi sebuah kerinduan dalam kehidupan...
Bilamana ia kini datang, maka suatu saat nanti bersiaplah untuk dapat mengikhlaskan. Kemalangan tak pernah mengenal insan, hanya mampu bersabar dan tawakal semoga lekas datang jawaban pasti yang menenangkan... (@suryapersonal)