Tampilkan postingan dengan label Kulinerku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulinerku. Tampilkan semua postingan

8 Juli 2025

NgeShare - Menikmati Polo Pendem Seusai Jogging

NgeShare - Menikmati Polo Pendem Seusai Jogging

Pagi ini, seusai jogging sebentar di alun-alun, pulangnya saya mampir dulu ke sebuah lapak pedagang yang ada di depan Stadion Ketonggo Kabupaten Ngawi. Lapak yang sebenarnya sudah sering dikunjungi oleh kakak perempuan saya alias ibunya Caca. Lapak itu menjual makanan polo pendem kukusan. Yaps, polo pendem, istilah dalam bahasa Jawa untuk berbagai hasil pertanian yang terpendam, seperti ubi, singkong, talas, kacang tanah, dan lain-lain.

Keputusan saya untuk mampir ke sana, selain karena mengingat keinginan kakak yang kemarin sore ingin sarapan dengan makanan tradisional itu, juga karena saya penasaran terkait di mana tepatnya dan bagaimana lapaknya. Maklum, saya sama sekali belum pernah ke sana. Apalagi membeli makanannya secara langsung di sana.

Yah, daripada penasaran, mending nyoba beli sendiri ke sana. Dan kayaknya enak juga kalau sehabis jogging nyarapnya pakai makanan kukusan tradisional, hehe…

Mengingat info dari kakak yang katanya lapak penjualnya ada di depan Stadion Ketonggo, saya meluncur ke sana dari alun-alun dengan mengendarai motor. Sampai di kawasan stadion, saya lalu mengamati sepanjang jalan di depannya dengan harapan semoga ketemu lapaknya dan masih buka. Ibarat seperti berjodoh, saya akhirnya bisa menjumpainya yang ternyata lokasi lapaknya ada di sebelah utara stadion atau sebelum kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Ngawi.

NgeShare - Menikmati Polo Pendem Seusai Jogging

“Jagungnya masih ada, Bu?” tanya saya ke penjualnya usai memarkirkan motor di dekat lapaknya.

“Masih banyak ini, Mas,” jawabnya sambil menunjukkan beberapa jagung kukus dari panci kukusannya.

“Alhamdulillah, jagungnya beli dua ya, Bu. Sama ubi madu dan singkongnya masing-masing juga dua,” pinta saya ke ibu penjualnya.

“Oke, Mas,” sahutnya dengan ramah.

NgeShare - Menikmati Polo Pendem Seusai Jogging

Dengan beli langsung sendiri ke sana, saya baru tahu kalau ternyata nama lapaknya, yaitu Polo Pendem Kukus by Wina Food. Hal itu saya sadari ketika membaca tulisan yang ada di bannernya. Dan bahkan ternyata bisa menerima pesanan juga, hehe…

“Totalnya dua belas ribu, Mas. Ini saya kasih bonus singkong kukusnya, ya, Mas,” ujar ibu-ibu penjualnya setelah saya bertanya total harga yang harus saya bayar untuk dua jagung, dua ubi madu, dan dua singkong. Lumayan terjangkau juga ternyata, ya.

NgeShare - Menikmati Polo Pendem Seusai Jogging

Usai membayar belanjaan saya dan mengucapkan terima kasih atas bonus singkongnya, saya pun lanjut pulang ke rumah kakak. Di perjalanan pulang, saya jadi teringat kalau beberapa makanan ini dulunya ialah makanan favorit almarhum Bapak dan juga almarhumah Ibu. Jika keduanya masih ada, pasti akan merasa senang sekali kalau saya belikan makanan-makanan ini. "Iya kan, Pak, Bu? :)"

27 Maret 2025

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

Kemarin, kakak perempuan saya (ibunya Caca) membelikan saya beberapa buah alpukat dan kental manis rasa coklat. “Ini mbak belikan alpukat dan kental manis coklat, kalau mau kamu bikin alpukat kocok,” ujarnya. Setelah mendengar dan melihat kedua barang yang telah dibeli kayak saya tersebut, saya jadi punya niatan untuk membuat alpukat kocok sebagai pelengkap hidangan berbuka. Sayangnya, niatan itu tidak jadi terlaksana. Selain karena rasa lelah yang luar biasa, juga karena makanan untuk berbuka saat itu saya rasa sudah cukup sekali porsinya. Khawatir kalau-kalau nanti kebanyakan makanan malah jadi mubazir karena nggak kemakan.

Alhasil, buah alpukat yang telah dibeli oleh kakak saya itu saya olah untuk hidangan sahur. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, seorang kawan baru saja mengunggah foto makanan olahan alpukat di status WAnya. Dan saya lihat makanan itu nampak seperti sandwich dengan isian alpukat. Karena saya merasa tertarik untuk membuatnya dan kebetulan ada stok roti tawar di lemari, saya iseng-iseng untuk membuatnya di waktu sahur.

Hal pertama yang saya lakukan sebelum membuat olahan tersebut tentunya, yaitu menyiapkan bahan-bahanya seperti dua potong roti tawar, satu buah alpukat, dan nugget ayam. Untuk isiannya, awalnya saya berniat untuk menggunakan telur mata sapi, tapi berhubung ada nugget di kulkas, akhirnya isiannya saya ganti pakai nugget.😅

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

Setelah bahan-bahannya sudah siap, langkah berikutnya adalah memanaskan nuggetnya. Bisa digoreng atau mengguakan air fryer. Kalau nuggetnya sudah matang, bisa lanjut ke bahan berikutnya, yaitu alpukat. Di sini alpukatnya saya potong menjadi dua terlebih dahulu. Lalu saya potong-potong dadu.

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

Alpukat yang sudah dipotong-potong dadu tadi saya susun di atas selembar roti tawar. Beres menyusun alpukat pada roti, selanjutnya susun nugget di atas alpukatnya. Untuk pemanis, bisa ditambahkan saus sambal sesuai selera. Lalu taruh selembar roti tawar lagi di atasnya, dan jadi nih sandwich alpukatnya.

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

NgeShare - Iseng-Iseng Bikin Sandwich Alpukat

Setelah mencobanya, ternyata rasanya enak juga. Nggak hanya cocok untuk makan sahur, saya rasa makanan ini juga cocok sekali untuk sarapan. Bikinnya gampang, nggak terlalu ribet, dan rasanya lumayan mengenyangkan. Buat kamu yang suka makan alpukat, mungkin ini bisa jadi salah satu referensi olahan alpukat yang bisa kamu coba, hehe… 😁

12 Februari 2025

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo
Persiapan jalan-jalan.

Kemarin sore, mumpung cuacanya lagi nggak mendung seperti sore-sore sebelumnya, saya mengajak Caca jalan-jalan mengelilingi kota dengan mengendarai sepeda motor. Seperti biasa, biar Caca nggak jenuh di rumah jadi alasannya. Yah, sesekali jalan-jalan kan juga perlu. Eh, bentar-bentar, ini sebenarnya yang jenuh di rumah itu Caca atau saya, ya? Haha…

Sambil meniatkan diri untuk mampir ke lapak lontong pecel yang ada di salah satu sudut kota, saya dan Caca pun berangkat. Melalui beberapa jalan, hingga akhirnya sampai ke tujuan awal, yaitu lapak lontong pecel yang berlokasi di Dusun Cupo, Kabupaten Ngawi. Sayangnya, sampai di lokasi, lapak tersebut tutup. “Yah, nggak buka”, ujar saya dalam hati dengan perasaan kecewa.

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo
Lokasi lapak penjual lontong pecel di Dusun Cupo.

“Mungkin lain kali baru bisa belinya, ya, Nduk”, ujar saya pada Caca. Berangkat dari lokasi lapak lontong pecel yang tutup, saya dan Caca kembali menyusuri jalanan kota. Sambil menyusurinya, saya jadi teringat dengan warung tepo yang dulu waktu saya masih kecil pernah diajak oleh almarhum bapak ke sana. Warung tepo itu namanya Tahu Tepo Bu Samud yang lokasinya ada di Jalan Sultan Agung atau dekat kantor Bank Mandiri Ngawi. Namun, sampai di sana ternyata warung teponya belum buka. “Ah, belum rejekinya lagi”, kecewa saya dalam hati.

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo
Lokasi warung tahu tepo bu samud yang belum buka.

Beranjak dari warung Tahu Tepo Bu Samud yang belum buka, saya dan Caca melanjutkan perjalanan. Kali ini kami mencoba melalui jalanan desa, tepatnya jalan desa Watualang. Penasaran dengan suasana pedesaan di sore hari, membuat saya memutuskan untuk menuju ke sana. Sambil asyik melalui jalanan desa itu, saya jadi teringat dengan warung tepo yang dulu pernah direview oleh salah seorang kawan pada video reelsnya.

Pada video reels milik kawan saya itu, ia menceritakan perihal makanan tahu tepo yang sedang dicobanya. Dan tahu tepo yang sedang ia coba pada videonya itu berlokasi di Desa Watualang, tepatnya di Warung Bakul Tepo. “Ah, mumpung lagi di Watualang, nyoba mampir ke sana, ya”, ujar saya lagi dalam hati.

Hampir mendekati Pasar Krempyeng Watualang dari arah selatan, saya mulai melihat-lihat ke arah kanan jalan. Bermaksud untuk mencari warung tepo tersebut yang kalau dilihat di google maps, lokasinya sih ada di seberang pasar. Untungnya di depan warung tersebut terpasang banner nama warungnya, jadi saya dengan mudah bisa menemukannya.

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo
Lokasi warung bakul tepo.

Sampai di sana, saya langsung memesan untuk dibungkus. Seperti biasa hanya pesan dua bungkus saja. Karena Caca belum doyan makan tepo, jadi satu bungkusnya lagi untuk ibunya. Di warung itu, Caca justru tertarik dengan kacang gorengnya. “Om, itu, itu..”, ucap Caca sambil menunjuk-nunjuk kacang goreng yang dijual di sana.

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo
Kacang goreng yang tadi dipengeni Caca.

Usai pesanan saya jadi, saya bertanya kepada ibu penjualnya perihal harga yang harus saya bayar. “Berapa totalnya, Bu?” tanya saya.

“Enam belas ribu, Mas”, jawabnya.

“Kalau kacangnya ini harga satu bungkusnya berapa, Bu?” tanya saya sambil menunjuk sebungkus kacang goreng yang tertata rapi di wadah displaynya.

“Satunya seribu, Mas”, jawab ibu-ibu penjual tepo.

“Saya beli dua kacangnya, ya, Bu”, ujar saya.

“Iya, Mas. Totalnya jadi delapan belas ribu, ya, Mas”, sahutnya.

Selesai membayar, saya dan Caca melanjutkan perjalanan untuk pulang. Setelah tiba di rumah dan selesai mandi (karena waktu berangkat jalan-jalannya saya belum mandi, wkwkwk…), saya bergegas untuk mencoba tahu tepo yang tadi saya beli. Baru suapan pertama, ada rasa khas dari bumbunya yang membuat saya penasaran untuk kembali menyendoknya.

NgeShare - Mampir ke Warung Bakul Tepo
Penampakan tahu teponya, hehe...

Beberapa kali suapan, barulah saya mengerti kalau tahu tepo ini ternyata cocok juga buat saya (hehe…). Cocok di rasa dan tentunya cocok di harganya. Hanya dengan harga delapan ribu rupiah untuk satu porsinya, saya sudah bisa mencicipi tahu tepo yang rasanya nikmat ini. Apalagi dengan harga segitu, sudah plus telur. Siplah, ini sesuai sama reviewnya kawan saya tadi.

Oiya, sebenarnya selain jualan tahu tepo atau tepo kecap, di warung tepo tersebut juga menjual minuman tradisional yang bernama Cemue. Tapi waktu itu saya lagi belum kepengen nyoba minuman itu. Dan sayangnya juga waktu itu saya lupa belum menanyakan harga cemuenya. Yah, mungkin lain kali kalau ada waktu buat mampir ke sana lagi. Semoga bisa mampir ke sana lagi, ya. ^_^

1 Februari 2025

NgeShare - Rujak Petis Bu Kom Ngawi

NgeShare - Rujak Petis Bu Kom Ngawi

"Kamu mau rujak petis nggak?", tanya kakak perempuan saya ke saya kemarin siang. Mendengar pertanyaan itu menjelang jam-jam makan siang, tentunya saya menjawab dengan jawaban yang mudah ditebak, yaitu 'iya, mau'. Setelah mendengar jawaban saya, kakak pun segera mengambil uang dan memberikannya ke saya sambil berpesan, "Beli dua bungkus, ya. Sambalnya dipisah aja."

Usai menerima uang untuk membeli makanan tradisional khas jawa timur itu dari kakak, saya pun bergegas untuk meluncur ke salah satu warung rujak petis yang ada di daerah saya tinggal, yaitu Kabupaten Ngawi. Dan warung rujak petis yang saya tuju itu bernama Warung Rujak Petis Bu Kom.

Setiap kali datang dan membeli rujak petis di warung ini, saya selalu teringat masa-masa pertama kalinya ketemu warungnya bu kom. Seingat saya dulu saya dan juga almarhum bapak punya keinginan untuk makan rujak petis. Maklum udah lama tidak mencicipi makanan tradisional yang terkenal dengan petis sebagai bahan utama bumbunya itu.

Dikarenakan warung rujak petis yang dulu pernah jadi langganan sudah lama tutup, saya mesti mencari alternatif warung rujak petis lain. Iseng-isenglah saya waktu itu nyari di GrabFood. Di GrabFood, saya ketemu satu warung rujak petis yang review dan ratingnya cukup bagus. Dan warung rujak petis itu adalah warungnya bu kom. “Jadi penasaran sama rasanya," ujar saya dalam hati waktu itu.

NgeShare - Rujak Petis Bu Kom Ngawi

Berbekal rasa penasaran dan keinginan untuk merasakan nikmatnya makan rujak petis lagi, membuat saya langsung sat set menuju lokasi warungnya. Barangkali kalau ada yang tanya alasannya saya waktu itu nggak pesan di Grab aja, saya akan menjawab, "lebih marem (puas) kalau beli langsung ke tempatnya, hehe..."

Usai mencicipi sendiri rujak petisnya bu kom, saya merasa puas. Selain karena bisa menikmati lagi makanan ini, juga karena tidak dikecewakan oleh rating maupun review yang ada di aplikasi. Memang sesuai rasanya (hehe…). Bukan hanya saya saja yang merasa puas dan mengganggap kalau rasa rujak petis ini cocok di lidah saya. Bahkan alm. bapak dan kakak perempuan saya juga merasa cocok.

NgeShare - Rujak Petis Bu Kom Ngawi

Nah, dari situ kalau saya, alm. bapak, dan juga kakak lagi kepengen makan rujak petis, pasti pilihan pertamanya ke situ dulu. Baru kalau warungnya bu kom tutup, kami baru mencari alternatif lain. Sepeninggal alm. bapak pun saya dan kakak sampai saat ini masih setia dengan rujaknya bu kom. Ya, walaupun kalau pas beli dan memakannya, kami berdua jadi selalu teringat masa-masa ketika lagi makan bareng alm. bapak.

Ah, iya, btw di warung rujak petisnya bu kom ada dua pilihan rujak petis. Ada rujak petis cingur harganya Rp18.000,00 dan rujak petis biasa alias tanpa cingur yang harganya Rp13.000,00. Di sini juga ada es dawet yang cocok sebagai pendamping makan rujak petisnya. Mungkin kalau kamu lagi di Ngawi antara jam 10 pagi sampai jam 3 sore, bisa mampir dulu ke sini untuk menikmati rujak petis dan es dawetnya, hehe...

27 Januari 2025

NgeShare - Mampir ke Warung Tahu Tepo Legend di Ngawi

Kemarin sore (21/01/2025), saya baru saja mengajak Caca berkeliling kota mengendarai sepeda motor. "Biar Caca nggak jenuh di rumah," ujar saya pada ibunya (kakak perempuan saya) ketika akan mengajak Caca keluar. Sekitar jam setengah lima sore saya dan Caca berangkat.

Beberapa kali, kami berdua melalui persawahan yang terendam banjir. "Ah, iya, pasti ini karena hujan tadi malam," sadar saya dalam hati ketika melaluinya. Kemarin malam, hujan memang turun cukup deras dan lama sekali redanya. Alhasil sungai-sungai kecil meluap dan membanjiri sawah-sawah di sekitarnya. Untungnya, luapan air sungai tidak sampai menggenangi jalan. Semoga lekas surut, ya.

Usai melalui persawahan yang tergenang air sungai akibat hujan semalam, saya dan Caca menuju ke alun-alun kota. Sudah bisa ditebak kalau di sana pasti ramai orang berlalu lalang. Mulai dari yang sekadar berolahraga di sore hari, baik itu joging atau bersepeda, pedagang makanan yang sudah ready pada standnya di pinggir jalan, hingga orang-orang yang sedang dalam perjalanan pulang dari tempatnya bekerja.

Berlalu dari alun-alun kota, kami berdua melaju ke sebuah jalan di sebelah utara alun-alun. Tepatnya di jalan dr. Soetomo. Di sana, saya memutuskan untuk mampir sebentar di sebuah warung yang menjual makanan khas ngawi. Nama warungnya, yaitu Tahu Tepo Mbah Nem.


Sesuai namanya, warung ini menjual makanan khas Ngawi yang bernama Tahu Tepo atau dikenal juga dengan nama tahu kecap. Makanan tradisional yang isinya terdiri dari irisan lontong, tahu yang digoreng dengan telur, kol yang diiris tipis, toge, acar mentimun, dan kemudian diberi sambal kacang serta kuah yang khas. Makanan ini banyak dijumpai di daerah Ngawi dan sekitarnya.

Nah, waktu itu saya memutuskan mampir ke warung tahu tepo mbah nem, selain karena ingin menunaikan titipan dari Kakak untuk membeli makanan itu, saya juga berniat untuk sejenak nostalgia di sana. Ya, nostalgia waktu dulu almarhum bapak masih ada.

Dulu, setiap awal bulan setelah alm. bapak mengambil gaji pensiunnya, di siang harinya beliau pasti akan berkata seperti ini, “Nanti sore mau beli tepo nggak?” Setelah mendengar pertanyaan itu, tentunya tanpa pikir panjang saya mengiyakannya. Maklum, jarang-jarang bisa makan enak, hehe…

“Beli di tahu tepo mbah nem, ya. Kalau nggak buka, beli di tempat lain. Ini uangnya,” ujar alm. bapak sambil menyerahkan uang untuk membeli makanan itu.

Barangkali ada yang bertanya-tanya terkait kenapa alm. bapak memilih tahu tepo mbah nem sebagai pilihan pertama. Alasannya selain karena rasanya enak, juga porsinya yang mengenyangkan. Apalagi ada krupuk pendampingnya yang juga enak. Harganya pun masih terbilang ramah di kantong. Hanya Rp13.000,00 saja sudah bisa menikmati seporsi tahu tepo yang rasanya mantap dan mengenyangkan ini.

NgeShare - Mampir ke Warung Tahu Tepo Legend di Ngawi
Tampilan tahu tepo mbah nem yang siap saya santap, hehe...

Oiya, btw tahu tepo mbah nem ini sudah lama eksis di Ngawi lho. Pertama kali buka sekitar tahun 90an menjadikannya sebagai salah satu warung kuliner yang legend di Ngawi. Jadi, wajar kalau tahu teponya ini jadi salah satu kuliner rekomended buat pendatang di Kabupaten Ngawi. Saking rekomendednya udah banyak foodvlogger yang mereviewnya. Bahkan sekitar 6 tahun lalu, tahu tepo mbah nem pernah diliput stasiun televisi Trans7. Wah, keren.



Kembali lagi ke cerita perjalanan saya dan Caca yang sedang mampir di warung tepo mbah nem, saya di sana membeli 2 bungkus. Satu untuk saya, satu lagi untuk ibunya Caca. Kalau beli lebih dari itu, khawatirnya nanti nggak habis. Ya, maklum, satu porsinya menurut saya sudah sangat mengenyangkan.

NgeShare - Mampir ke Warung Tahu Tepo Legend di Ngawi
Pak Nano yang sedang menggoreng telur dan tahu untuk pesanan saya.

Selesai pesanan saya jadi dan membayar ke Pak Nano (penjualnya), saya dan Caca kembali mengendarai motor untuk pulang. Nah, itulah cerita singkat jalan-jalan saya kali ini bersama Caca. Besok-besok, lanjut jalan-jalan atau kulineran kemana lagi, ya? hehe…

8 September 2024

NgeShare - Pertama Kali Mencoba Nasi Lemak


Semenjak mengasuh Caca, ada satu hal yang sering saya lakukan, yaitu menonton kartun Upin & Ipin yang disiarkan di TV. Ya mau gimana lagi, soalnya acara kartun itu merupakan salah satu kesukaan Caca. Sebagai pengasuhnya (sementara), mau nggak mau saya juga harus mengikuti dan memahami hal-hal yang menjadi kesukaannya itu. Kalau nggak begitu, pasti nantinya dia jadi rewel, bukan?

Btw saking seringnya saya menemani Caca menonton kartun itu, saya sampai jadi hafal dengan alur cerita beberapa episodenya. Gimana nggak hafal, lha wong banyak episode yang diulang-ulang. Tapi dari banyaknya episode yang diputar, ada dua hal yang dari dulu membuat saya penasaran. Dua hal yang sebenarnya sepele sih.

Untuk yang pertama, yaitu tentang nama teman sekelas Upin Ipin yang tak pernah disebutkan di dalam ceritanya. Padahal dalam beberapa episode, tokoh ini sering kali muncul.

NgeShare - Pertama Kali Mencoba Nasi Lemak

Lambat laun, akhirnya rasa penasaran saya pada tokoh ini bisa terjawab. Melalui web fandom Upin & Ipin, saya baru mengetahui kalau ternyata  nama tokoh ini, yaitu Nurul. Lega deh, akhirnya tau namanya.

NgeShare - Pertama Kali Mencoba Nasi Lemak

Kemudian untuk yang kedua, yaitu nasi lemak. Yups, nasi lemak. Makanan kesukaan Upin & Ipin selain ayam goreng dan juga ABCD (Air Batu Campur Durian) buatan Uncle Muthu. Hampir tiap episode selalu menampilkan makanan khas dari Malaysia ini. Oleh karena itu, saya jadi penasaran sama rasanya, hehe…

Saking penasarannya sama nasi lemak yang kata tokoh-tokoh di kartun Upin Ipin rasanya sangat lezat, saya jadi punya angan-angan. Apalagi angan-angannya kalau bukan untuk mencicipi makanan itu. Meskipun hanya di kartun, tapi entah mengapa saya merasa makanan itu terlihat begitu menggiurkan.


"Jadi kepengein makan nasi lemak," gumam saya dalam hati setiap kali menonton makanan itu pada kartun Upin & Ipin. Sayangnya di daerah saya tinggal, belum ada yang menjualnya. Mau bikin sendiri, tapi belum ada waktu, apalagi niat. Kalau mau beli, harus ke luar kota, atau malah ke luar negeri alias ke Malaysia.

Namun, beberapa bulan kemudian, bak peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba, ketika lagi secroll-secroll aplikasi pesan antar makanan, saya menjumpai ada salah satu warung makan di daerah saya tinggal yang menjual nasi lemak. Tak mau melewatkan kesempatan ini, saya pun akhirnya memutuskan untuk mengordernya. Ya walaupun ketika akan mengordernya, ada ekspektasi yang harus saya turunkan. Karena saya sadar bahwa baik itu rasa maupun penampilannya pasti tak akan sama seperti yang aslinya di negeri Jiran sana.



Selang 30 menitan menunggu, akhirnya orderan nasi lemak saya pun tiba. Oiya, ini saya pesan dua ya. Satu yang spesial dan satunya lagi yang original. Emang bedanya apa sih antara yang spesial sama yang ori? Bedanya cuma dikit kok, kayak perasaanku sama kamu (haha…). Sorry-sorry cuma bercanda, ya (hehe…). Tapi memang bedanya hanya sedikit sekali. Bedanya hanya terletak pada penambahan potongan daging ayamnya saja. Kalau yang spesial ada tambahan potongan daging ayam bagian paha bawah, sedangkan yang ori nggak ada daging ayamnya.

NgeShare - Pertama Kali Mencoba Nasi Lemak
Nasi lemak spesial.

NgeShare - Pertama Kali Mencoba Nasi Lemak
Nasi lemak original.

Meskipun begitu rasanya sama-sama enak kok. Apalagi harganya yang masih cukup terjangkau. Untuk yang spesial harganya Rp14.000, sedangkan untuk yang original harganya Rp7.000 saja. Lumayan murah kan, ya?

Walaupun rasa dan tampilannya nggak sama persis seperti aslinya, tapi setidaknya cukup mengobati rasa penasaran saya. Kalau ibarat orang akan melangkah, ini adalah langkah awal yang baik. Ya, semoga saja suatu saat bisa mencoba juga nasi lemak di negeri asalnya sana. Entah itu kapan, tapi semoga bisa diwujudkan, hehe…

8 Agustus 2024

NgeShare - Rekomendasi Singkong Keju Yang Enak di Ngawi

NgeShare - Rekomendasi Singkong Keju Yang Enak di Ngawi

Setelah kemarau panjang, syukur alhamdulillah akhirnya tadi malam turun hujan. Ya, meskipun tak berlangsung lama, tapi setidaknya cukup untuk menyejukkan suasana yang saat itu sedang sumuk-sumuknya. Btw kalau lagi hujan gini rasanya enak dipakai buat ngopi sambil ngemil atau malah tidur. Eh, tapi kalau belum terlalu ngantuk, rasanya sayang kan kalau buru-buru dipakai buat tidur. Barangkali menikmati sebentar suasana hujan di teras rumah sambil ngemil mengasyikan juga, hehe…

Bicara soal ngemil di waktu hujan atau setelah hujan, saya punya rekomendasi satu jajanan yang menurut saya cocok sekali untuk ngemil di waktu-waktu tersebut. Sebuah jajanan ringan yang terbuat dari singkong, namanya singkong keju. Yups, singkong keju. Salah satu olahan singkong yang saya sukai selain tela-tela dan kripik singkong.

Sedikit cerita, saya pertama kali mengenal jajanan ini sekitar 2 tahun yang lalu. Setelah selesai bekerja dan sejenak healing berkeliling kota dengan mengendarai motor di sore hari, saya menjumpai salah satu stand penjual singkong keju yang tak terlalu jauh dari rumah. Penasaran dengan rasanya yang kala itu seperti apa, akhirnya saya pun mencoba untuk membelinya. Sebelum mencoba untuk membelinya, dulu bayangan saya kalau di stand penjual singkong keju itu hanya menjual singkong dengan satu varian rasa saja, yaitu keju. Tapi ternyata bayangan saya itu salah.

Di stand penjual singkong keju itu yang di kemudian hari saya baru tau namanya adalah ‘Singkong Keju Mletek Empuk’ ternyata ada beberapa varian rasa. Ada rasa original, susu keju, susu balado, susu BBQ, susu keju mesis, dan susu jagung bakar/ manis. Yang saya ingat waktu itu saya beli singkong keju varian rasa balado dan original. Dulu memilih varian rasa balado karena saya dan juga Kakak (ibunya Caca) memang suka rasa balado. Sedangkan untuk yang rasa original, alasan memilihnya selain karena agar tau rasa aslinya seperti apa, juga karena agar alm. Bapak bisa ikut mencobanya. Maklum alm. Bapak tidak begitu suka dengan rasa yang bermacam-macam. Jadi, saya rasa yang original ini nantinya bisa dicoba oleh alm. Bapak. Dan ternyata alm. Bapak waktu itu menyukainya.

NgeShare - Rekomendasi Singkong Keju Yang Enak di Ngawi
Stand singkong keju Mletek Empuk.

Sebenarnya di daerah saya tinggal, yaitu Kabupaten Ngawi, ada beberapa penjual singkong keju. Namun, setelah mencoba singkong keju di beberapa penjual yang berbeda, saya merasa cocok dengan singkong keju yang dijual dekat rumah saya ini. Singkong Keju Mletek Empuk, yang sesuai namanya singkong kejunya memang benar-benar empuk di dalam, tapi krispi di luar. Meskipun rasanya cenderung gurih, tapi saya rasa jajanan ini tetap cocok untuk teman minum kopi atau teh.

NgeShare - Rekomendasi Singkong Keju Yang Enak di Ngawi
Penampakan singkong keju yang rasa original dan balado.

Selain rasanya yang menurut saya pas di lidah saya, harganya juga masih cukup terjangkau. Sepuluh ribu rupiah untuk semua varian rasa. Oiya, seperti halnya stand singkong keju lainnya, untuk stand singkong kesukaan saya ini bukanya mulai sore hari hingga malam. Jadi, paslah buat teman nyemil di waktu malam.

NgeShare - Rekomendasi Singkong Keju Yang Enak di Ngawi
Menu dan harga di singkong keju Mletek Empuk.

Oiya, bukan hanya saya saja yang merasa cocok dengan singkong keju yang satu ini. Kakak saya pun juga merasa cocok dengannya. Bahkan kalau saya mau keluar rumah, Kakak saya kadang nitip untuk dibelikan jajanan ini. Oleh sebab itu pun saya sampai kepikiran buat nyoba menanam singkong sendiri di lahan samping rumah kakak. Ya barangkali kalau nanti singkongnya sudah berbuah kan bisa nyoba bikin singkong keju sendiri. Mohon do’anya ya, semoga nanti bisa dipanen, hehe…

NgeShare - Rekomendasi Singkong Keju Yang Enak di Ngawi
Singkong yang baru saya tanam.

Nah, itulah sekiranya cerita saya terkait rekomendasi singkong keju yang enak di Ngawi. Kalau mungkin di antara kawan-kawan ada yang tertarik buat mencoba singkong keju rekomendasi saya ini bisa langsung ke standnya, ya. Biar gampang nemu alamatnya, bisa dicari di pencarian Google atau aplikasi Google Maps dengan kata kunci ‘Singkong keju mletek empuk ngawi’. Selamat mencoba. 😁

2 April 2024

NgeShare - Batagor, Salah Satu Makanan di Lokasi War Takjil Kabupaten Ngawi


Satu minggu yang lalu, saya baru saja memposting tulisan di blog ini dengan judul “NgeShare - Empat Lokasi War Takjil yang Ramai di Kabupaten Ngawi”, dan kali ini saya ingin menuliskan sedikit tentang satu makanan yang ada di salah satu lokasi itu. Makanan itu ialah batagor. Pasti sudah banyak yang kenal dengan makanan khas Bandung ini, kan? Bahkan mungkin sudah sudah sering memakannya.

Nah, kebetulan kemarin sore saya berkesempatan untuk membeli batagor (singkatan dari baso, tahu, goreng) sebagai salah satu pilihan takjil untuk berbuka. Saya membelinya di salah satu lokasi war takjil yang ada di Kabupaten Ngawi. Lokasinya itu di Jalan Ronggowarsito.

Dari sekian banyaknya pilihan makanan atau jajanan yang ada di sana, mengapa saya justru menjadikan batagor ini sebagai pilihan? Alasan seperti seseorang yang sedang ngidam, karena waktu itu lagi kepengen jajanan yang gurih, ada kriuk-kriuknya, tapi juga ada lembut-lembutnya. Rasa-rasanya hanya batagor yang memenuhi ketiga kriteria makanan seperti saya inginkan waktu itu, hehe…

Oiya, di Jalan Ronggowarsito ini sebenarnya ada beberapa penjual batagor, tapi saya suka membelinya di penjual batagor yang sering mangkal tepat di depan SMPN 1 Ngawi ini. Selain karena rasanya yang sudah cocok di lidah, harga yang murah meriah, porsinya yang bikin perut sumringah, batagor ini juga sudah jadi pilihan saya sejak masih bersekolah di bangku sekolah menengah pertama (sekitar tahun 2009an).

Tiap kali beli batagor ini, saya jadi teringat masa SMP dulu. Jaman saya masih SMP dulu kalau ingin jajan batagor, hanya ini satu-satu pilihan jajanan batagor waktu itu. Dengan uang jajan Rp2.000,00, rasanya sudah cukup mengenyangkan perut saya yang kelaparan di waktu jam istirahat sekolah.


Baik penjual maupun rasa batagornya pun masih sama dari jaman saya masih SMP. Yang beda cuma tampilan gerobaknya dan abang penjualnya yang sudah kelihatan menua. Yah, maklum waktu sudah lama berlalunya, dan dengan semakin lama berlalunya waktu, selalu saja ada perubahan atau perbedaannya, bukan?

Btw batagor ini tipe yang nggak pake tahu ya. Meskipun begitu, rasanya tetap nikmat. Apalagi ada banyak kulit pangsitnya yang renyah-renyah gurih enyoy. Tidak terlalu asin, pun tidak terlalu hambar. Saus kacangnya juga pas di lidah, hanya saja sedikit agak encer.

Oiya, kalau untuk porsinya yang sebelumnya saya bilang bikin sumringah ini emang nggak main-main ya banyaknya. Tengok saja pada foto di bawah ini, saya membelinya Rp10.000,00, porsinya bisa satu mangkuk penuh seperti ini. Kalau dimakan sendiri, bisa bikin kenyang sebelum makan nasi, hehe…


Kalau mau beli batagor ini di bulan ramadhan, saya biasanya otw dari rumah sekitar jam setengah 4 sore. Lebih dari jam itu, sudah pasti ramai banget dan mesti antri. Apalagi kalau sudah jam 5, pasti sudah habis. Jadi, bener-bener ngrasain sensasi war takjil kalau mau beli ini lewat jam 4 sore itu, haha…

Ok, sekiranya itulah cerita saya tentang batagor, salah satu makanan yang ada di salah satu lokasi war takjilnya Kabupaten Ngawi. Oiya, sebelum lupa, saya mau klarifikasi dulu kalau ini hanyalah sebuah cerita receh dari saya yang bukan merupakan reviewer atau ahli makanan, ya. Jadi, jangan dijadikan patokan tentang bagaimana rasa dari makanan ini. Ya karena selera tiap orang kan beda-beda. Kalau penasaran dengan rasanya, barangkali bisa langsung membelinya. Itung-itung juga sekalian nglarisin dagangan abangnya. 😁

15 Maret 2024

NgeShare - X_Tea Story, Salah Satu Rekomendasi Es Teh Pinggir Jalan di Ngawi


Di kala musim penghujan telah datang dan gempuran mie rebus yang mulai berseliweran, saya rasa pamor dari es teh pinggir jalan belum begitu tergoyahkan. Apalagi ini sudah memasuki bulan ramadhan. Masih banyak orang yang berlalu lalang untuk sekadar berburu es teh di waktu petang. Untuk apalagi kalau bukan melepaskan dahaga setelah seharian berpuasa.

Bicara tentang es teh yang dijual di pinggir jalan, kita sudah banyak tahu bahwa fenomena kehadirannya tak lepas dari adanya kemarau panjang yang pernah kita rasakan sebelumnya. Panas yang terasa sangat membuat rasa haus begitu berat. Pengen yang dingin-dingin dan segar-segar, tapi yang praktis pula. Alhasil mulai bermunculanlah penjual-penjual es teh di pinggir jalan dengan berbagai merk dan rasa yang ditawarkan.

Semenjak viralnya es teh pinggir jalan, rasa-rasanya hampir semua kota di Indonesia, bahkan di setiap sudutnya pasti bisa dijumpai penjual es teh pinggir jalan. Tak terkecuali di daerah saya tinggal, yaitu Kabupaten Ngawi. Di sini pun bisa dijumpai banyak penjual es teh pinggir jalan dengan berbagai merk. Ada yang hanya menjual es teh original, ada pula yang menjual dengan berbagai varian rasa maupun varian minuman. Dan hampir setiap jalan sudah pasti bisa dijumpai stand-stand penjual es teh, hingga pernah membuat saya terheran-heran bukan kepalang. Hmm, nampaknya usaha ini terlihat cukup menggiurkan, ya, hehe…

Oiya, di antara banyaknya merk es teh pinggir jalan yang ada di daerah saya tinggal, ada satu merk es teh yang menurut saya worth it. Worth it sesuai rasa dan harganya, ya. Kalau menurut reviewer gadget sih, worth it di kelasnya (hehe…). Nama merk es tehnya ialah X_Tea Story.

Harga es tehnya mulai dari Rp3.000,00.

Merk es teh pinggir jalan yang baru buka kurang dari setahun ini, menurut saya worth it sekali untuk dicoba. Selain karena rasanya yang cocok di lidah saya, juga karena harganya yang pas di kantong, tidak terlalu mahal, cukup murah. Ada yang harganya Rp3.000,00 lho. Selain itu porsinya pun lumayan besar atau jumbo.

Berlokasi di pinggir jalan raya besar, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Kabupaten Ngawi (bisa dicari di google dengan kata kunci “x_teastory ngawi”), membuat merk es teh ini mudah ditemukan dan jarang sekali sepi dari pembeli. Barangkali sepinya hanya ketika hujan tiba.

Stand X_Tea Story.

Untuk es teh yang dijual di sini tidak hanya es teh original. Ada beberapa varian minuman lainnya, seperti Tea Tarik, Tea Lemon, Tea Leci, Orange Yaksu, Melon Yaksu, Leci Yaksu, Strawberry, Coffee Leci, Coffee Lemon, Float Coffee Milk, Mango Squash, Blue Lemon Squash, Matcha Float, Red Velvet Float, dan Taro Float.

Menu minuman yang tersedia di X_Tea Story.

Dan kemarin sore, saya menjadikannya sebagai pilihan pelengkap berbuka puasa. Tea lemon sebagai pilihannya. Oiya, di sini minuman best sellernya yang Float Coffee Milk, ya. Kalau favorit saya sih Tea Lemon dan Coffee Lemonnya. Rasa yang sesuai di lidah dan harganya yang juga sesuai di kantong saya (hehe…). Nah, kira-kira itu cerita dan pilihan saya terkait es teh pinggir jalan. Kalau pilihan es teh pinggir jalanmu yang mana? Bisa komen di bawah, ya.

Tea lemon pelepas dahaga saya di waktu berbuka puasa kemarin.

6 Maret 2024

NgeShare - Garang Asem Terenak di Kota Ngawi Menurut Saya


Siang tadi seberes bekerja, kakak saya pulang dengan membawa beberapa lauk makanan untuk saya dan juga Caca. Kebetulan hari ini saya belum sempat memasak karena masih repot menjaga Caca yang dari sejak tadi malam rewel akibat efek imunisasi kemarin. Syukurlah siangnya, rewel Caca sudah cukup mereda. Mungkin karena ibunya sudah ada di rumah, ya, hehe…

Kembali lagi ke beberapa lauk makanan yang telah dibawa oleh kakak saya tadi, saya melihat di antaranya ada salah satu makanan yang menjadi perhatian saya. Garang asem namanya. Makanan yang banyak dikenal orang khas daerah Jawa Tengahan ini menarik perhatian saya, selain karena sudah lama tak memakannya juga ada kenangan tersendiri tentangnya.

Mundur sekitar 10 tahun yang lalu, alm. Bapak pertama kali memperkenalkannya. Makanan yang terkenal dengan rasanya yang pedas, gurih, asam, nan segar ini dibawa oleh alm. Bapak ke rumah sepulangnya bekerja. Kata alm. Bapak, garang asem ini pemberian dari salah seorang rekan kerjanya yang baru saja purna tugas. Dalam rangka syukuran rekan kerjanya, ujarnya.

Waktu itu pertama kalinya saya mencicipi makanan satu ini. Awalnya terasa kurang familiar dengan rasanya, tapi lama-lama kok malah terasa enak (hehe…). Dan setelah itu, saya mulai sering memakannya. Dengan lidah yang sudah terbiasa terhadap rasanya, saya rasa inilah garang asem yang paling cocok di lidah saya. Hingga saya nobatkan menjadi garang asem terenak di kota saya tinggal, yaitu Ngawi.

Tampilan garang asemnya.

Pernah saya mencoba untuk mencicipi garang asem di lain tempat di Ngawi, tapi saya rasa garang asem yang dijual di rumah makan dengan nama Depot Rizki ini masihlah yang terbaik. Belum ada yang bisa menggantikannya menurut lidah saya.

Oiya, barangkali kalau di antara pembaca penasaran dengan rasanya atau sedang singgah di kota yang terkenal dengan perempatan Kartoyono Medot Janjinya ini, bisalah menyempatkan diri untuk mencicipinya. Mungkin rasanya akan cocok di lidah pembaca, kalaupun tidak, ya setidaknya sudah pernah mencicipinya (hehe…). Untuk lokasi rumah makannya sendiri cukup mudah ditemui. Berlokasi di Jl. Ahmad Yani No.665, Karangrejo, Beran, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, atau tepatnya di seberang UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngawi.


Kalau harganya tergantung jenisnya, ya. Untuk garang asem ayam harganya Rp16.000, garang asem lele harganya Rp15.000, dan untuk garang asem ampela juga Rp15.000. Gimana, kira-kira mau mencobanya kah? Atau kamu punya rekomendasi tersendiri? Bisa dituliskan di kolom komentar, ya. 😁